KARENA KITA BEDA “ Kamu harus tegas donk Lit!” ucap Sarah berapi-api.
“ Sarah! Sini kamu!” ucap Nabila sambil menyeret Sarah menjauhi Lita yang sedang menangis.
“ Caranya bukan seperti itu Sarah! Sudah Untung sekarang Lita sudah mau ikut kajian kita.” nasehat Nabila pada Sarah.
” Tapi Nab, aku cuma nggak mau kehilangan dia lagi.” ucap Sarah.
” Aku ngerti, aku juga sama, aku nggak mau dia jauh lagi dari kita.”
Tiba-tiba Lita mendekati mereka berdua dan berkata,” maafin aku, aku memang bukan teman yang baik untuk kalian. Tapi tolong ngertiin aku sekali ini saja. Kalian percaya kan sama aku?”
Sarah mulai angkat bicari lagi tapi secepat kilat Nabila mencegahnya.
” Iya kita ngerti kok Lit, maafin kita juga ya, kalau kita sering ikut capur masalah kamu.”
Tiba-tiba terdengar ringtone Hp dari kamar Lita.
” Bentar ya, aku angkat telpon dulu.” Ucap Lita sambil lari kekamarnya.
” Assalamu’alaikum, ada apa ma?” tanya Lita hati-hati.
” Adik kamu Lit! Adik kamu masuk rumah sakit Lagi.” ucap mama Lita panik.
” Mama tenang ya, Lita langsung kesana sekarang.” hibur Lita sambil menyeka air matanya. Malam itu juga dia harus pergi kerumah sakit, dia nggak mungkin membiarkan mamanya menunggu adiknya sendirian dirumah sakit. Papanya sudah setahun yang lalu meninggal karena kecelakaan. Dia buru-buru mencari nomor Toni dari phonebooknya.
” Hallo Ton! Bisa tolongin aku nggak?” cerocos Lita.
” Hei kamu kenapa? Kok kayak dikejar anjing gitu?” tanya Toni, cowok Lita.
” adikku masuk rumah sakit lagi Ton, aku harus buru-buru kesana. Kamu bisa anterin aku nggak Ton?”
” Ok! sepuluh menit lagi aku nyampe kost kamu. Sabar ya!”
” makasih ya!”
Lita mempersiapkan segalanya untuk dibawa kerumah sakit, dari buku-buku pelajarannya, seragam sekolahnya dan sedikit uang hasil honor cerpennya yang kemarin masuk majalah remaja. Dia tahu mamanya sangat membutuhkan uang itu, karena sejak papanya meninggal, mamanya yang dulunya hanya ibu rumah tangga, sekarang baru usaha kecil-kecilan membuka warung.
” Lita? Kamu mau kemana?” tanya Nabila yang sedang membaca buku diruang tamu.
” adikku masuk rumah sakit lagi Nab. Aku harus pergi kesana sekarang.” ucap Lita menjelaskan.
” malem-malem gini Lit? Sendirian? Mo naik apa? Aku anter pake motor ibu kost ya?” cerocos Nabila.
”Nggak usah Nab, aku dah banyak ngrepotin kamu. Aku tadi udah telpon Toni kok, dia mau nganterin aku,” ucap Lita. Nabila tidak bisa komentar apa-apa. Tidak lama kemudian terdengar suara motor Toni. ” tu Toni dah dateng, aku pergi dulu ya?” lanjut Lita.
” Hati-hati ya Lit, salam buat mama sama adik, moga cepet sembuh. Kamu yang sabar ya!” pesan Nabila.
Inilah hal yang paling tidak diharapkan Nabila dan Sarah sebagai sahabat dekat Lita sejak SMP. sejak pertama kali Lita jadian dengan Toni, Nabila dan Sarah semakin jauh, mereka berdua tidak setuju. Apa pasal? Selain karena persahabatan mereka sejak dulu tidak ada nuansa cinta antar lawan jenis, Toni juga adalah seorang nasrani.
☺☺☺
Setengah jam kemudian Lita dan Toni sampai di rumah sakit. Mereka langsung menuju bagian informasi.
” Sus, pasien yang namanya Putri Akuila diruang apa ya?” tanya Toni pada perawat yang sedang jaga.
“ Sebentar ya!” ucap perawat itu sambil melihat daftar pasien dikomputer,” oh masih di ICU mas.” Ucap perawat itu memberikan keterangan.
Air mata mulai menggantung di kedua belah sudut mata Lita.” Apa yang terjadi sama adikku Ton?”
“ Sabar ya! Adik kamu pasti baik-baik aja,” hibur Toni sambil memeluk Lita.” Udah ya, Sekarang hapus air mata kamu, kasian mama sama Putri kalau melihat kamu menangis gini.” Ucap Toni lagi sambil melepas pelukannya dan menghapus air mata Lita.
Mereka berdua langsung ke ruang ICU. Mereka menemukan sesosok tubuh yang sangat lemah dengan berbagai alat medis yang terpasang pada tubuh lemahnya, dari balik kaca. Mama melihat kedatangan Lita dan langsung keluar.
” Putri sebenarnya sakit apa ma?” tanya Lita sambil memeluk tubuh mamanya.
” Maafkan mama, mama nggak pernah bilang putri sakit apa. Ini juga permintaan putri, putri nggak mau kalau kamu jadi memikirkan dia terus. Putri sakit Leukimia.” papar mama. Bagai suara petir yang menyambar. Lita tak menyangka, sakit adiknya seserius ini. Dia lepas pelukannya. Dia tak tahu harus berbuat apa. Pasti ibunya membutuhkan biaya banyak untuk pengobatan adiknya.
” makasih ya nak Toni. udah nganterin Lita ke sini.” ucap mama pada Toni memecah kesunyian.
” sama-sama tante!”
” oya Ton, lebih baik kamu sekarang pulang, ntar kemaleman. Ntar kamu dicariin.”
” Siapa yang mo cari aku, paling juga mama sama papa nggak peduli.”
” hush, jangan ngomong gitu!”
” iya nak Toni. Bukannya tante mengusir, tapi kan besok juga harus sekolah.” saran mama Lita.
” ya udah, Toni pamit dulu ya tante. Moga putri cepet sembuh.” Pamit Toni sambil mencium puggung tangan mama.
“ Lita anterin Toni sampai depan dulu ya ma.” Ucap Lita pada mamanya, mamanya hanya mengangguk.
Sesampainya ditempat parkir...........
” Lit, aku tahu kamu butuh uang banyak untuk pengobatan Putri. Aku percaya kamu sudah punya penghasilan sendiri. Tapi aku nggak yakin honor menulis kamu akan cukup untuk membiayai semuanya, belum lagi kalau tulisan kamu nggak bisa dimuat. Apalagi Putri sakit Leukimia, yang harus setiap kali cuci darah dan cemoterapy. Tolong jangan ditolak, gunakan ATM ini sesuai kebutuhanmu.” ucap Toni hati-hati, takut menyinggung perasaan Lita. Dia memberikan salah satu ATM pribadinya kepada Lita.
” aku nggak bisa terima ini Ton, ini sudah terlalu berlebihan. Aku sudah terlalu banyak merepotkan kamu. Aku bisa kok, keluar sekolah terus kerja buat membiayai semuanya.” Ucap Lita sambil menyeka air matanya yang keluar lagi.
“ hei, kamu mau kerja apa? Belum juga lulus SMA. Emang cari kerja gampang!”
” itu juga uang orang tua kamu kan!” ucap Lita marah, dia merasa tersinggung dengan ucapan terakhir Toni.
” Oke, ini memang uang dari orang tuaku. Tapi please, Terima! aku tau kamu pasti sangat membutuhkannya.”
Akhirnya dengan terpaksa Lita menerimanya. Karena dia juga masih bingung harus cari uang ke mana untuk biaya pengobatan adiknya. Sedagkan sekarang sudah hampir ujian kelulusan, nggak mungkin dia bisa produktif menulis, dia harus fokus ke pelajaran juga.
” Oke, aku terima. Tapi suatu hari nanti pasti aku kembalikan, walaupun itu dengan mencicil.” ucap Lita yang terakhir kalinya.
☺☺☺
Tiga bulan sudah, waktu berlalu setelah peristiwa malam itu. Nabila, Sarah, dan Lita duduk-duduk di bawah salah satu pohon rindang di sekolah mereka, sambil menunggu ijazah dibagikan.
” Oya, selamat ya Nab! Akhirya impianmu jadi bu bidan tercapai juga. Wah kalau besok aku melahirkan bisa gratis donk!” Ucap Lita, sambil mencubit pipi Nabila yang lumayan tembem.
” hem...hem....hem......,” Nabila cuma senyum-senyum, sambil mengunyah coklat yang masih memenuhi mulutnya.
” eh ya, kamu sendiri akhirnya gimana Lit?” tanya Sarah yang dari tadi menekuni cerpen yang baru saja dibuat Lita.
” kayaknya cerita aku sama deh kayak cerpen yang aku buat, aku nggak mungkin kuliah, buat hidup sehari-hari aja jauh dari cukup. Aku juga nggak mungkin nggantungin hidup aku sama Toni terus.”
” bagus emang kamu harusnya putus sama tu anak.” celetuk Sarah nggak nyambung. Dia emang satu-satunya anak yang benci banget sama Toni. Apalagi harus menerima kenyataan kalau sahabanya sendiri pacaran sama Toni. Lita hanya tertunduk.
” au.....,” tiba-tiba Lita mengaduh kesakitan sambi memegangi perutnya.
” kamu kenapa lit?” tanya Nabila panik.
” nggak tau, tiba-tiba perutku sakit banget.” ucapnya sambil nyengir kesakitan.
” kamu belum sarapan tadi po? Maag mu kambuh kali.” Timpal Sarah.
” nggak kok, tadi pagi aku udah sarapan.” Ucapnya lagi sambil terus memegangi perutnya yang semakin sakit. Tapi tiba-tiba Lita terkulai bersandar di pundak Sarah. Sarah kaget. Lita sudah tak sadarkan diri. Tanpa pikir panjang, Nabila langsung mengambil Hpnya dari tas.
” ni mobil Hasan kan?” tanya Nabila dengan menunjuk mobil yang bertengger di dekat mereka duduk.
” Assalamu’alikum. Akh, ane bisa minta tolong nggak?” ucap Nabila pada sang mantan ketua Rohis itu.
” Wa’alaikumsalam. Ada apa ukh, kok kayaknya serius banget? Bisa-bisa, insyaAllah!”
” antum cepetan ke sini, ane ada di deket mobil antum. Lita pingsan!”
” Oke, ane langsung ke situ! assalamu’alaikum.” ucap Hasan ikutan panik dan langsung menutup telpon Nabila. Tidak lama kemudian Hasan terlihat lari-lari kecil dari kejauhan.
” langsung masukkan ke mobil aja!” ucapnya sambil membuka pintu mobilnya secara otomatis dari kejauhan. Sarah dan Nabila membawa masuk Lita ke dalam mobil dibantu beberapa teman yang melihat kejadian itu.
” Gimana kejadiannya ukh? Mau bawa ke klinik atau rumah sakit ukh?” tanya Hasan sambil melajukan mobilnya keluar sekolah.
” kerumah sakit aja ya, ane takut terjadi apa-apa!” ucap Nabila masih dengan kecemasannya.
” Oke!” jawabnya singkat. Hasan melajukan mobilnya semakin cepat menuju rumah sakit terdekat.
Sesampainya dirumah sakit.................
” kasian Lita.” gumam Nabila. Sarah dan Hasan tidak komentar apapun disaat mereka menunggu Lita diperiksa dokter. Terlihat dokter keluar dari ruang pemeriksaan, mereka semua beranjak dari tempat duduknya.
” gimana dok?” tanya Nabila penasaran.
“ sebaiknya teman anda dirawat disini untuk sementara waktu sampai hasil pemeriksaaan keluar, karena ini sepertinya berasal dari rahimnya bukan dari lambungnya. Setelah itu baru kami lakukan tindakan lanjutan.” Papar dokter itu. Mereka hanya termenung mendengar penjelasan dokter. Bahkan mereka tidak menyadari kalau dokter telah berlalu meninggalkan mereka. Air mata mulai keluar dari kedua buah sudut mata Sarah dan Nabila. Tiba-tiba terdengar suara ringtone Hp dari saku celana Hasan, memecahkan suasana.
“ ‘afwan ane angkat telpon dulu.” Ucap Hasan sambil pergi agak menjauh. Terdengar samar dari Nabila dan Sarah apa yang dibicarakan Hasan dan lawan bicaranya.
“ udah nggak pa-pa, kalau antum ada urusan lain. insyaAllah Lita akan baik-baik saja. Sukron untuk semuanya.” Ucap Sarah setelah Hasan selesai ditelpon.
“ nggak pa-pa kok, bisa ditunda. Oya, apa nggak lebih baik hubungi keluargannya. Sepertinya dari tadi ane nggak lihat kalian hubungi keluarga Lita.”
“ Itu yang buat ane dan Sarah bingung. Kita nggak mungkin kasih tau mamanya kalau Lita masuk rumah sakit. Baru aja adiknya keluar dari rumah sakit karena leukimia. Antum juga tau sendiri kan setahun yang lalu papanya udah meninggal. Ekonomi keluarganya juga lagi bener-bener sulit. Itu akan menambah problem rumah tangganya. Ane bener-bener bingung, harus gimana.” papar Nabila sambil menyeka air matanya yang meleleh.
” mungkin untuk soal biaya rumah sakit Lita, ane bisa bantu. Udah nggak usah kalian pikirin.” ucap Hasan, membuat hati Nabila sedikit lega. Seenggaknya itu mengurangi hutang budi Lita sama Toni.” toni gimana?” tanya Hasan kemudian. Seantero sekolah sudah tau semua hubungan antara Lita dan Toni.
“ Alhamdulillah, sukron ya akh. Masalah Toni juga masih jadi pikiran kita. Kita berdua takut kalau Lita akan goyah keyakinannya karena kebaikan-kebaikan Toni. Ya kita tahu sendirilah misi mereka. alhamdulillahnya, Toni hari ini sedang mengurus kuliahnya diluar kota, jadi dia nggak tau kalau Lita sakit.”
☺☺☺
” Nab, itu nggak bener kan? Apa yang aku dengar salah kan?” ucap Lita tak terkendali, dia belum bisa menerima semua keadaan yang tengah menimpa dirinya. Nabila tidak bisa menahan air matanya, dia terpaku di samping Toni. Toni mencoba untuk menenangkan Lita dengan memeluknya erat. Tapi Lita meronta menolaknya.
” Sabar sayang, aku tetap akan mencintaimu apa adanya!” bisik Toni di telinga Lita.
” apa yang kamu harapkan dari seorang cewek yang tidak akan pernah bisa melahirkan seorang anak.” ucap Lita lagi. Memang hubungan mereka tidak sekedar hubungan pacaran biasa layaknya remaja lain, tapi telah ada cincin yang melingkar pada jari manis mereka sebagai pengikat menuju sebuah pernikahan.
” pergi!!!” usir Lita terhadap Toni dan Nabila yang berada di kamar rumah sakit itu. Tapi Toni tidak bergeming, dia semakin erat memeluk Lita yang kian kuat meronta.
” Nab, tolong panggilkan dokter!” pinta Toni. Tanpa pikir panjang, Nabila langsung keluar memanggil dokter. Tidak lama kemudian dokter datang bersama seorang perawat. Disuntikkan obat penenang pada saluran infus Lita. Dan Lita pun mulai tertidur.
” Tolong jaga emosinya. Karena kondisi psikologinya juga agak terganggu.” ucap dokter itu.
” Apa nggak ada jalan lain dok, selain pengangkatan rahim?” Tanya Toni, berharap ada jalan lain yang mungkin lebih baik. Dokter itu tidak menjawab, beliau hanya tersenyum kecut sambil menggelengkan kepalanya.
☺☺☺
Semenjak dilakukannya pengangkatan rahim, Lita lebih sering murung sendiri. Apalagi sekarang dia tinggal sendiri di ibu kota jauh dari sahabatnya Sarah dan Nabila. Dia bekerja di sana. Mereka juga sudah jarang sekali berhubungan karena sibuk pada kegiatan masing-masing. ditambah lagi dengan hilangnya Hp Lita yang mengharuskannya mengganti nomor. Hanya Toni yang tahu, karena memang Lita bekerja pada perusahaan keluarga Toni.
” Kak Nabila?” tanya seorang gadis berjilbab kepada nabila yang sedang membaca buku di halte bus. Nabila menoleh.
” Putri?” ucap nabila ketika melihat gadis itu.
” kak, Putri kangen!” ucapnya. Tiba-tiba dia memeluk nabila dan menangis dipelukannya. Nabila bingung.
” Ada apa, kamu kok nangis? Gimana kabar kak Lita, kok kakak hubungi Hpnya nggak pernah aktif.” tanya nabila sambil melepas pelukannya dan menghapus air mata Putri.
” kak Lita bentar lagi mau nikah sama kak Toni.” ucap putri lirih.
” nikah sama Toni? Gila tu anak!” ucap Nabila kaget.
” dan lebih gilanya lagi, Kak Lita.............” ucap Putri terputus. Dia berat untuk mengungkapkannya.
” kak lita kenapa dek?” tanya Nabila nggak sabar.
” kak Lita pindah keyakinan, kak!”
” kakak nggak salah dengar kan Put?” ucap nabila nggak percaya. Apa yang dia takutkan selama ini akhirnya benar-benar terjadi.
” ini salah Putri kak, kalau seandainya saja putri tau, kalau akhirnya kejadiannya akan seperti ini, mendingan Putri nggak diobatin. mending putri mati aja, daripada kak Lita harus mengorbankan dirinya sendiri. Aku bingung kak. Mama juga udah benci banget sama kak lita. Mama udah nggak mau lagi anggep kak lita, anak. Tapi tetep, kak Lita keuh-keuh.” sesal Putri.
” jangan gitu donk putri, ini semua bukan salah putri kok. Oya, terus gimana dengan pengobatan Putri?”
” putri sempet satu bulan berhenti pengobatan. Sampai suatu saat putri pingsan dijalan waktu pulang sekolah. Putri ditolong seorang cowok, yang ternyata dia teman sekolah kak Nabila sama kak Lita dulu.”
” siapa Put?” potong Nabila nggak sabar.
” kak Hasan, namanya. Yang punya toko buku dan taman bacaan Al-Huda itu lho kak. Sampai sekarang dia yang biayai pengobatan Putri. Aku udah dianggap seperti adiknya sendiri, keluarganya juga baik, baik sama aku dan mama. Dia juga yang bantu mama buat mengembalikan kak Lita. Tapi aku nggak mau gratis kak, aku nggak mau jadi beban orang lain. Aku bekerja di taman bacaan kak Hasan, semampuku.” papar Putri panjang lebar.
Nabila tidak mengomentari apa yang dibicarakan putri. Dia langsung mengambil Hp dari tasnya.
” maaf, bentar ya put?”
” assalamu’alaikum!” sapa lawan bicara Nabila kepada Nabila, yang ternyata Hasan. Dia pengin minta penjelasan Hasan tentang Lita.
” wa’alaikum salam. Gimana kabarnya akh?”
” alkhamdulillah baik. Ada apa ukh, tumben telpon?”
” antum kok nggak kasih kabar tentang Lita sih? Antum tau kan ana sahabat Lita.” ucap nabila to the poin, dia kecewa dengan sikap temannya itu.
” ’afwan ukh, kirain anti udah tau. Secara anti kan sahabat dekatnya.”
” ane tu dah lama lose contak sama dia. Untung ni baru ketemu Putri. Putri dah cerita tentang Lita sama ane.”
” iya ukh, kasihan Lita. Tapi benar-benar udah sulit banget untuk mengembalikannya, ane udah beberapa kali mencoba bertukar pikiran, berdialog sama dia. Tetap dia pada pendiriannya. Toni benar-benar mendominasi kehidupan Lita, apalagi sekarang setelah Lita jauh sama anti dan Sarah. Ya mungkin untuk sekarang ini, kita hanya bisa berdo’a agar dia mendapat hidayah kembali. Karena kita sekarang udah beda. Oya ukh, ‘afwan, Putri disuruh pulang cepet ya. Ane mau antar dia ke rumah sakit”
” oh ya. Ya udah ya, syukron semuanya. ‘afwan kalau ada salah. Assalamu’alikum!”
Purworejo, 13 juli 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar