Selasa, 30 Maret 2010

MENJADI PEMUDA UTAMA

Siapakah anda?
Kenapa anda ada disini?
Karena anda adalah pemuda!
Pemuda?
Siapakah pemuda itu?
Pemuda merupakan agen of change (agen perubahan). Pemuda merupakan sebuah agen perubahan, yang berperan dalam perbaikan semua sektor yang ada di masyarakat. Pemuda adalah jantung Negara, tanpa pemuda maka bangsa ini tak akan pernah hidup. Karena ditangan pemudalah masa depan bangsa dan agama.
Marilah kita mulai dengan melihat kebelakang sejarah peradaban, dimana begitu utamanya peran pemuda.
1. Allah mengangkat Nabi dan Rosul dari kalangan pemuda. Dimana pemuda adalah kaum produktiktif yang masih kuat dan tangguh untuk berkarya.
2. Masih ingat dengan kisah tiga pemuda yang bersembunyi didalam gua, sampai-sampai Allah mengabadikannya dalam Al-Qur’an. Ya, merekalah para pemuda Askhabul Kahfi. Demi keyakinan/keimanannya mereka bersembunyi didalam gua selama 309 tahun. Mereka dipaksa oleh raja Dikyanus(Decius) yang zalim dan menyombongkan diri untuk kembali kepada agama nenek moyang mereka. Kisah selengkapnya dapat dibaca sendiri didalam Al-Qur’an surat al-kahfi ayat 9-26.
3. Muhammmad(dulu belum menjadi Rosul), diusia dua belas tahun ia menjadi ”manajer unit usaha internasional” Abu Thalib sampai keSyam, dan dialah sales yang menjadi kuci sukses kafilah dengan kejujurannya. Usia dua puluhan dia menjadi pengelola utama bisnis besar yang diinvestasikan Khotidjah. Dia enterpreneur(pengusaha) dengan sifat agung: shiddiq(jujur), amanah(kapabel), fathanah(smart/cerdas), dan tabligh(informatif). Sifat-sifat yang kini dirujuk teori enterpreneurship modern. Dan betapa banyak keagungan Muhammad dimasa mudanya(sebelu menjadi nabi).
4. Generasi pertama yang masuk islam, mengucap dua kalimat syahadat untuk yang pertama kali sebagian besar adalah pemuda. Sebut saja salah satunya adalah Ali bin Abu Tholib, yang menyatakan keimanannya pada usia delapan tahun.
5. Kenal Usamah bin Zaid? Dia adalah seorang panglima. Dia memimpin perang dengan gagah berani pada usia 18 tahun.
6. Kalau yang satu ini pasti kenal. Sang Guru belia, dialah imam Syafi’i. Satu cerita yang selalu kita ingat tentang beliau. Ketika bulan puasa dia mengajar murid-muridnya. Namun, disaat dia mengajar dia tiba-tiba ijin kebelakang untuk minum. ” lho kenapa seorang guru minum didalam bulan puasa?” ya, karena imam Syafi’i belum baligh ketika itu.
7. Tahu kisah askhabul ukhdud? Dialah pemuda yang gugur demi mempertahankan keimanannya. Namun, dengan gugurnya, ribuan orang menyatakan keimanannya kepada Allah. Ini dia kisahnya:
Pada zaman dahulu kala, sebelum zaman Nabi Muhammad SAW, hiduplah seorang raja. Dia memiliki seorang tukang sihir yang sudah tua. Suatu ketika, tukang sihir ini berkata kepada raja, "Sesungguhnya saya telah lanjut usia, maka utuslah kepada saya seorang pemuda agar saya mengajarinya ilmu sihir." Si tukang sihir ini menginginkan agar ada generasi muda yang dapat meneruskan ilmu sihirnya. Lalu sang raja mengutus seorang pemuda kepadanya untuk diajari ilmu sihir.
Ketika dalam perjalanan, pemuda yang diutus itu menjumpai seorang Rahib (seorang Nasrani yang ahli ibadah). Lalu pemuda itu duduk di hadapan sang Rahib dan mendengarkan ucapannya. Ternyata Pemuda ini terkesan dengan perkataan sang Rahib.
Akhirnya, setiap kali pemuda ini ingin menemui si Tukang Sihir, ia selalu menemui si Rahib dahulu untuk duduk kepadanya. Setelah itu barulah dia menemui si Tukang Sihir. Dan setiap kali dia bertemu si Tukang Sihir, pemuda ini selalu dipukul karena selalu terlambat. Terlambat gara-gara selalu menemui si Rahib dalam perjalanan.
Karena selalu dipukul, pemuda ini melaporkannya kepada si Rahib. Rahib lalu menanggapinya, "Kalau kamu takut tukang sihir, maka katakanlah: 'Saya tertahan oleh keluarga saya', dan apabila kamu takut pada keluargamu, maka katakanlah: 'Saya tertahan oleh Tukang Sihir.'"
Nah, pada suatu hari Pemuda ini memergoki seekor binatang besar yang merintangi orang banyak. Lalu dia berkata, "Hari ini saya akan mengetahui, tukang sihir yang lebih afdhal ataukah rahib yang lebih afdhal?"
Lalu dia ambil sebuah batu dan berdoa, "Ya Allah, jikalau perkara sang Rahib yang lebih Engkau cintai daripada perkara tukang sihir, maka bunuhlah hewan ini sehingga orang-orang bisa berlalu."
Kemudian dia lemparkan batu itu dan berhasil membunuhnya. Sehingga orang lain pun dapat meneruskan perjalanan.
Akhirnya, Pemuda ini mendatangi Rahib dan menceritakan kejadian barusan kepadanya. Menanggapi hal tersebut, Rahib berkata, "Hai Putraku, engkau sekarang lebih utama daripada aku, perkaramu telah sampai pada apa yang aku lihat. Dan sesungguhnya engkau bakal diuji. Jika engkau benar-benar diuji maka janganlah engkau menunjukkan kepada aku."
Singkat cerita, maka jadilah Pemuda ini sebagai orang yang bisa menyembuhkan buta bawaan, sopak, dan mengobati orang-orang dari semua penyakit (dengan izin Allah).

***

Suatu ketika, ada seorang buta yang mendengar tentang hal ini. Si buta ini adalah teman dekat Raja. Dia lalu mendatangi pemuda itu dengan membawa hadiah yang melimpah. Si Buta berkata, "Semua yang ada di sini adalah untukmu jika kamu bisa menyembuhkan aku."
Lalu si Pemuda tadi menanggapinya, "Sesungguhnya aku tidak bisa menyembuhkan seorangpun. Sesungguhnya yang menyembuhkan itu adalah Allah Ta'ala. Jika Anda beriman kepada Allah Ta'ala saya akan memohon kepada Allah, maka Dia pasti menyembuhkanmu."
Kemudian si Buta beriman kepada Allah, dan Allah membuatnya sembuh.
Orang yang tadinya buta itu kemudian mendatangi raja dan duduk menemaninya sebagaimana selama ini ia duduk menemani Raja. Sang Raja melihat dia sudah tidak buta lagi. Kemudian bertanya, "Siapa yang telah mengembalikan kebutaanmu ini?"
"Tuhanku dan Tuhan Anda adalah Allah" jawab teman Raja itu.
Akibat perkataannya itu sang Raja menghukum dan terus menyiksanya, sampai ia menunjukkan tentang adanya seorang Pemuda. Akhirnya Pemuda itu pun didatangkan dan Raja berkata kepadanya, "Hai Putraku, sihirmu telah sampai pada tingkat menyembuhkan penyakit buta bawaan, sopak, dan engkau telah berbuat dan berbuat!"
Maka si Pemuda menjawabnya, "Sesungguhnya saya tidak bisa menyembuhkan siapa pun. Sesungguhnya yang menyembuhkan itu adalah Allah Ta'ala." Akibat perkataannya itu, sang Raja menghukumnya dan terus menyiksanya, hingga ia memberitahu adanya seorang Rahib.
Akhirnya si Rahib didatangkan pula. Raja berkata kepadanya, "Tinggalkan agamamu!" Tapi si Rahib menolaknya.
Sehingga Raja memerintahkan untuk mengambil gergaji. Gergaji itu diletakkan di tengah kepalanya, lalu dibelahnya kepala itu, hingga robohlah kedua belahannya.
Kemudian teman dekat Raja yang sudah tidak buta itu dihadirkan lagi. Sang Raja berkata kepadanya, "Tinggalkan agamamu itu!" Dia pun menolaknya. Maka gergaji diletakkan di tengah-tengah kepalanya, dan dia dibelah hingga roboh kedua belahannya itu.
Kemudian si Pemuda itu dihadirkan. Sang Raja berkata kepadanya, "Tinggalkan agamamu!" Sang Pemuda menolaknya. Sehingga sang Raja menyodorkan pemuda ini kepada sekelompok sahabatnya. Sang Raja memerintahkan, "Pergilah, bawa ia ke gunung ini dan itu, dan jika kamu telah sampai pada puncaknya, maka jika ia meninggalkan agamanya, bebaskan dia. Tetapi jika tidak, maka lemparkan dia."
Sekelompok sahabat Raja tadi membawa pemuda itu ke pergi ke puncak gunung. Pemuda itu pun berdo'a, "Ya Allah, cukupkanlah saya terhadap mereka dengan sesuatu yang Engkau kehendaki."
Lalu tiba-tiba gunung bergetar, menggoncang para sahabat Raja dan mereka berjatuhan.
Akhirnya Pemuda tersebut berjalan menuju Raja. Raja heran dan bertanya kepadanya, "Apa yang telah dilakukan oleh sahabat-sahabatmu?"
"Allah ta'ala telah mencukupi aku terhadap mereka" jawab Pemuda itu.
Akhirnya sang Raja menyerahkan Pemuda ini kepada sekelompok sahabatnya lagi. Dia memerintahkan, "Bawalah dia dan naikkan dia di atas sebuah perahu hingga ke tengah laut. Jika dia menginggalkan agamanya, maka lepaskan. Jika tidak, maka ceburkan dia."
Maka sekonyong-konyong para sahabat Raja itu membawanya. Si Pemuda ini lalu berdoa lagi, "Ya Allah, cukupkanlah saya terhadap mereka dengan sesuatu yan Engkau kehendaki."
Maka tiba-tiba kapal pun terbalik dan mereka mati tenggelam.
Pemuda ini lalu berjalan lagi mendatangi Raja. Raja terheran-heran lagi, dan dia bertanya, "Apa yang telah dilakukan oleh sahabat-sahabatmu?"
Si Pemuda menjawabnya, "Allah Ta'ala telah mencukupi aku terhadap mereka." Lantas Pemuda ini berkata lagi, "Sesungguhnya Anda tidak bisa membunuh saya hingga Anda mau mengerjakan apa yang saya perintahkan kepada Anda."
"Apa itu?" tanya Raja.
"Anda kumpulkan orang-orang dalam satu tanah lapang, dan Anda salib saya di atas pohon korma. Kemudian ambillah satu anak panah dari tempat penyimpanan anak panah saya. Kemudian letakkan anak panah tepat pada tengah-tengah busur, kemudian ucapkanlah: 'Dengan menyebut nama Allah, Tuhannya Pemuda ini'. Kemudian panahlah saya. Maka sesungguhnya jika Anda melakukan hal tersebut maka Anda pasti bisa membunuh saya", jawab Pemuda itu dengan rinci.
Akhirnya sang Raja menuruti saran Pemuda itu. Dia kumpulkan orang-orang dalam satu tanah lapang. Dia juga menyalib Pemuda itu di atas batang pohon korma. Kemudian dia ambil satu anak panah dari kantongnya, dia letakkan di tengah-tengah busur panah, dan dia mengucapkan, "Dengan menyebut nama Allah, Tuhannya pemuda ini." Kemudian dia bidikkan anak panah itu kepadanya. Anak panah itu tepat mengenai pelipis Pemuda itu. Si Pemuda meletakkan tangannya pada pelipisnya, kemudian dia meninggal.
Dari peristiwa itu, ternyata orang-orang banyak yang mengatakan, "Kami beriman dengan Tuhannya pemuda ini."
Sang Raja diberitahu tentang kondisi tersebut. Dia menerima laporan seperti ini: "Apakah Anda melihat apa yang dulu Anda khawatirkan? Orang-orang telah beriman."
Sang Raja lalu memerintahkan menggali parit di mulut-mulut jalan yang ada di antara rumah-rumah. Parit pun di gali dan api dikobarkan di dalamnya.
Raja berkata, "Siapa yang tidak kembali dari agamanya, maka lemparkan ia ke dalamnya!" Sehingga setiap orang yang tidak mau keluar dari agamanya, diperintahkan oleh Raja: "Masuklah (ke dalam parit)!"
Mereka melakukan hal tersebut terus menerus hingga datang seorang wanita. Bersama wanita ini juga ada seorang pemuda cilik miliknya. Wanita itu enggan untuk menceburkan diri ke dalam api. Maka si pemuda cilik tersebut berkata kepadanya, "Ibu, bersabarlah. Sesungguhnya engkau berada di atas yang benar."

HIKMAH

Demikianlah sebuah kisah nyata yang disampaikan dari Rasulullah SAW. Banyak hikmah yang bisa kita ambil dalam kisah ini. Di antaranya, bahwa pengorbanan nyawa seorang pemuda, justru telah menjadikan masyarakat luas ikut beriman kepada Allah. Pengorbanannya, keistiqomahannya, kesabarannya, dan iman pemuda itu kepada Allah hingga nyawa taruhannya, bahkan turut menjadikan seorang anak cilik beriman kepada Allah, dan si cilik itu meneguhkan pendirian ibunya. Subhanallah. Sungguh luar biasa pengorbanan di jalan Allah. "Gugur satu tumbuh seribu"... []

Maraji' : Hadits Riwayat Bukhari


Mungkin kita bisa bilang……
Itu kan dulu! Sekarang jamannya kan udah beda!
Jangan salah...............!
Marilah kita lihat saudara-saudara kita dibelahan dunia timur sana. Saudara-saudara kita yang dengan gagah berani bersenjatakan batu-batu kecil menghadapi tank-tank zionis. Ya, merekalah para pemuda Palestina yang sedang mempertahankan Bangsa dan Agamanya. Yang merupakan sebuah harga diri.
Terus apa yang harus kita lakukan sebagai pemuda?
Apakah kita akan diam saja sebagai seorang pemuda? Mengikuti alur hidup bagaikan air yang mengalir? Membiarkan hidup kita biasa-biasa saja?
Menjadi pemuda yang dengan bangga berfoya-foya menghabiskan harta orang tua? Menyia-nyiakan waktu yang ada dengan hura-hura?

Tentu tidak!
Kita ingin kehidupan kita lebih berwarna bukan?
Bagaimana caranya?
Kita tidak perlu susah-susah seperti para pendahu kita, sampai mengorbankan nyawa. Allah telah memberikan kemudahan kepada kita. Makanya kita perlu bersyukur.
Caranya adalah kita rubah foya-foya kita menghabiskan harta orang tua dengan berinfaq, kita ubah pola sms kita yang tadinya buat sms si doi yang nggak penting jadi buat sms tausiyah buat saudara-sadara kita, kita isi waktu luang kita dengan mengkaji keagunganNya, dan masih banyak yang lainnya.
Dimana kita bisa melakukan itu semua?
Di ROHIS tentunya!
Insya Allah di ROHIS kehidupan kita akan lebih berwarna. Kita akan menjadi pemuda utama yang selalu mengharapkan keridhoanNya. Yang selalu berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan.


MARS PEMUDA ISLAM

Wahai pemuda islam bersatulah
Dunia islam menanti langkah sucimu
Luruskan niat dihati
Rapat barisan sejati
Jadikan diri pemuda rabbani 2x
Allah ghoyatuna
Muhammad qudwatuna
Qur’an dusturuna
Jihad sabiluna
Allah tujuanku
Muhammad tauladanku
Qur’an petunjukku
dan jihan jalanku
Syahid dijalan allah cita-cita tertinggi 2x
By: Izzatul Islam








Yogyakarta, 29 Agustus 2009

Artikel Pernikahan

SUNNAH ROSULULLAH UNTUK MENIKAH

Menikah adalah ikatan syar’i yang menghalalkan hubungan antara laki-laki dan perempuan, sebagaimana sabda Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam:“Berwasiatlah tentang kebaikan kepada para wanita, sesungguhnya mereka bagaikan tawanan di sisi kalian. Kalian telah menghalalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah (akad nikah)”. Menikah merupakan menemukan dua sosok asing menjadi satu kesatuan yang disebut dengan keluarga. Dulunya bukan siapapun, tapi setelah ikatan suci itu menyatukannya, mereka menjadi satu kesatuan yang akan senantiasa bersama menjalani hidup. Menikah merupakan suatu ibadah yang disunnahkan oleh Rosulullah SAW. Anjuran untuk menikah telah banyak sekali tertulis di dalam al-Qur’an maupun hadis.
”Kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kalian dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan.” (QS. An-Nur: 32)
Menikah hakikatnya merupakan sunnah. “Menikah adalah sunnahku. Siapa yang tidak mengamalkan sunnahku, ia bukan termasuk ummatku. Menikahlah karena aku akan senang atas jumlah besar kalian di hadapan umat-umat lain. Siapa yang telah memiliki kesanggupan, menikahlah. Jika tidak, berpuasalah karena puasa itu bisa menjadi kendali” (HR. Ibn Majah). Namun, ulama fikih membaginya menjadi wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram. Hal ini disebabkan karena menikah berkaitan erat dengan kemampuan individu, sebagaimana sabda Rosulullah SAW di bawah ini:
“Wahai para pemuda, siapa di antara kalian yang memiliki kemampuan untuk ba’ah, maka menikahlah, karena menikah itu bisa menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Dan siapa yang tidak mampu, berpuasalah karena puasa itu bisa menjadi kendali baginya”. (HR. Bukhari)
Dari hadis tersebut dapat disimpulkan bahwa ketika seseorang itu sudah memiliki kemampuan untuk menikah, dianjurkan untuk segera menikah. Kadar kemampuan bagi seorang untuk melaksanakan pernikahan berbeda-beda, dari pendapat para ulama. Ada yang mengatakan bahwa yang dikatakan sudah mampu itu adalah sudah mampu untuk berjima’; Namun, ada juga yang mengatakan bahwa mampu itu, mampu lahir maupun batin. Seseorang itu dikatakan mampu lahir ketika sudah sanggup hudup berumah tangga, mampu memberikan ma’isyah untuk keluarganya, khususnya bagi laki-laki. Sedangkan seseorang itu dikatakan mampu secara batin adalah mampu untuk berjima’ tadi.
Dan yang belum mampu untuk menikah, diharapkan untuk berpuasa. Karena dengan berpuasa dapat lebih mengendalikan hawa nafsu.
Menikah memiliki manfaat yang sangat besar, diantara manfat menikah adalah :
1. Tetap terpeliharanya jalur keturunan manusia, karena pada hari kiamat kelak Rosulullah akan membanggakan umatnya yang banyak. Selain itu, dengan jumlah kita yang banyak di bumu ini, akan menggentarkan musuh-musuh islam. Inilah kekuatan islam, umat yang banyak dengan semangatnya berjuang.
2. Menjaga kehormatan dan kemaluan dari perbuatan zina yang diharamkan dan merusak tatanan masyarakat.
3. Terealisasinya kepemimpinan suami atas istri dalam hal memberikan nafkah dan penjagaan kepadanya. Allah berfirman:
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (An Nisa’ : 34)
4. Memperoleh ketenangan dan kelembutan hati bagi suami dan istri serta ketenteraman jiwa mereka.
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir” (Ar-Ruum : 21).
5. Membentengi masyarakat dari prilaku yang keji yang dapat menghancurkan moral serta menghilangkan kehormatan.
6. Terpeliharanya nasab dan jalinan kekerabatan antara yang satu dengan yang lainnya serta terbentuknya keluarga yang mulia dan penuh kasih sayang. Ikatan yang kuat dan tolong-menolong dalam kebenaran.
7. Mengangkat derajat manusia dari kehidupan seperti binatang menjadi kehidupan manusiawi yang mulia.
Dan masih banyak manfaat besar lainnya dengan adanya pernikahan yang syar’i, mulia dan bersih yang tegak berlandaskan Al Qur’an dan As Sunnah.




MEMILIH JODOH

Ketika seseorang baik laki-laki maupun perempuan mempunyai niatan untuk menikah, pasti telah mempunyai kriteria tertentu untuk pendamping hidupnya. Karena sesungguhnya menikah itu adalah sesuatu yang akan terus mengiringi dalam kehidupan dunia maupun akhirat. Menikah merupakan sesuatu yang sakral, yang diharapkan hanya terjadi satu kali dalam hidup dan nantinya akan sampai pada akhirat. Oleh karena itu dalam memilih calon pendamping hidup harus dilakukan dengan selektif. Bukan hanya sekedar mementingan kehidupan dunia, tapi juga kehidupan akhirat. Adapun cara memilih jodoh, baik istri maupun suami yang disunnahkan oleh Rosulullah SAW adalah sebagai berikut :
KRITERIA CALON ISTRI
Dari Abu Hurairah, Rosulullah SAW bersabda:
“ Seorang wanita dinikahi arena empat hal: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka carlah yan sempurna agamanya, niscaya engkau akan beruntung.”
1. Baik Agamanya
Agama adalah asas pertama yang terpenting dan harus dipakai oleh siapapun yang ingin menikah dan menentukan wanita pilihannya. Rosulullah telah menegaskan, jika seorang laki-laki memilih wanita karena agamanya maka akan beruntung. Walaupun kriteria agama dalam hadis diatas, diletakkan terakhir, tapi dalam memilih seorang istri hendaknya kaum laki-laki mengutamakan agamanya. Karena sesungguhnya seorang istri menrupakan madrasah pertama bagi keturunanya kelak. Dan Rosulullah juga telah memperingatkan dengan sabdanya:
“Barangsiapa menikahi seorang wanita karena kehormatannya, maka Allah tidak akan menambah baginya kecuali kehinaan. Barangsiapa menikah karena hartanya, maka Allah tidak akan menambah kecuali kefakiran. Barangsiapa menikah karena keturunannya, maka Alah tidak akan menambah, tetapi jika demi menyelamatkan dirinya, menjaga kesucian kemaluannya, atau mengeratkan tali persaudaraan, maka Allah akan memberkahi keduannya.”(HR. Ath-Thabrani)
2. Baik Akhlaqnya
Pada suatu hari Rasulullah SAW ditanya perihal ciri-ciri wanita terbaik untuk dinikahi. Beliau menjawab, apabila dipandang ia sangat menyenangkan, apabila diperintah ia selalu menaatinya, dan jika ditinggal pergi ia bisa menjaga diri dan harta suami.
Hendaknya jangan memilih wanita yang kasar kata-katanya, suka melawan, tidak pernah menghormati suami. Rosulullah pernah berpesan didalam khotbahnya, pada kaum wanita.”Bahwa kebanyakan isi neraka adalah wanita”. Mengapa demikian? Karena kebanyakan dari wanita suka mengeluh dan mengingkari kebaikan suami.
Dari sini semua dapat kita simpulkan bahwa Rasulullah SAW sangat memperhatikan sekali maslahat umat dan nilai etika moral yang tinggi.
3. Cantik Parasnya
Wajah cantik lebih bagus sebagai bentengnya iman para kaum laki-laki. Dengan memiliki istri yang cantik, maka akan senantiasa bertambah kecintaannya kepada istrinya. Seorang suami sudah tidak lagi tertarik kepada wanita lain. Rosulullah bersabda:
“Bila Allah menaruh di dalam hati salah satu dari kalian perasaan senang akan wajah seorang wanita, maka sebaiknya lihatlah dia, karena hal itu memungkinkan terjalinnya rasa cinta antara keduanya.”(HR. Ibnu Majah)
Namun, dalil ini tidak boleh sembarangan dipakai. Perlu dipahami, hal di atas dilakukan apabila hubungan itu sudah sah suami istri atau dalam proses nazdor pra khitbah, untuk lebih memantapkan hati.
4. Ringan Maharnya
Wanita berkah, wanita yang paling baik adalah yang paling ringan maharnya.
5. Subur Peranakannya
“Nikahilah wanita yang subur lagi penyayang, karena aku akan berbagga dengan banyaknya kalian atas umat-umat yang lain.” (HR. Abu Daud, An-Nasa’I, dan Al-Hakim)
Dengan menikahi wanita yang subur peranakannya, memungkinkan sekali untuk mendapatkan keturunan yang banyak. Diharapkan keturunan yang lahir dari keluarga yang baik akan menambah mujahid dimuka bumi ini yang senantiasa beramal ma’ruf nahi munkar.
6. Gadis
“Alangkah baiknya kalau engkau memilih gadis yang bisa merayu dan kau rayu, yang bisa kau cubit an mencubitmu.” (HR. An-Nasa’i)
Selain itu seorang gadis akan lebih menerima apa adanya suaminya, baik segi fisik maupun nafkahnya. Karena jika wanita itu seorang janda maka akan membandingkannya dengan suami atau laki-laki sebelumnya.


7. Berasal dari keluarga baik-baik
Berasal dari keluarga yang baik juga merupakan faktor yang perlu diperhatikan. Bukan berarti disini harus mencari seorang wanita bangsawan atau dari keluarga yang terpandang dan dihormati, akan tetapi yang dimaksud disini adalah seorang yang hidup di tempat, rumah, dan lingkungan yang baik. Dan juga dari keluarga yang baik-baik.
8. Bukan dari keluarga dekat
Dalam ilmu biologi, ketika seseorang itu menikah dengan keluarga dekat maka keturunannya akan cenderung cacat. Karena gen-gen negatif dari setiap individu dalam pasangan akan bertemu. Selain itu tidak meluasnya hubungan keluarga.
KRITERIA CALON SUAMI
Kriteria calon suami disini tidak jauh beda dengan kriteria calon istri, yaitu:
1. Baik agama dan akhlaqnya
Seorang wanita, yang palin utama harus memilih seorang suami yang baik agama dan akhlaqnya. Karena kelak dalam keluarga yang akan membimbing dan memimpin keluarga adalah laki-laki(suami). Mengapa baik agamanya disandingkan dengan baik akhlaqnya? Karena seseorang yang tahu banyak tentang agama belum tentu baik akhlaqnya. Karena sesungguhnya kaum orientalis itu pengetahuannya tentang islam sangat banyak, namun tidak baik akhlaqnya. Oleh karena itu, hendaknya para wanita sangat selektik pada calon suaminya berkenaan dengan baik agama dan akhlaqnya ini.
2. Memiliki hafalan al-Qur’an
3. Telah mampu ba’ah dengan dua macam bentuknya. Yaitu kemampan untuk menjimak dan kemampuan untuk membiayai pernikahan dengan segala bebannya dan mampu memberika penghidupan setelah berkeluarga. Karena yang bertanggung jawab di dalam keluarga adalah suami.
4. Lembut terhadap perempuan
Wanita itu terbuat dari tulang rusuk yang bengkok. Maka jangan dipaksa(dengan keras) meluruskannya, karena akn patah, tapi dengan lembah lembut harusnya. Wanita itu juga dominan akan perasaannya, sehingga menghadapinya juga harus dengan perasaan juga.
5. Menyenangkan istrinya saat dilihat, sehingga tidak akan menimbulkan ketidaksukaan antara keduanya dan istri tidak akan kufur terhadap suaminya.
6. Berjiwa kepemimpinan yang baik
7. Lelaki yang bisa menjaga kesuciannya. Maksudnya disini adalah yang belum pernah menikah atau berjimak dengan wanita lain. Seperti halnya laki-laki yang dianjurkan untuk menikahi gadis.
8. Lelaki yang tidak cacat
9. Laki-laki yang tidak mandul
Seperti halnya kriteria calon istri.wanita juga harus memilih calon sami angtidak mandul. Dengan demikian akan menghasilkan keturunan yang banyak.

cerpenQ


ELEGI DIPADANG HATI’08


Selama ini
Kumencari-cari
Teman yang sejati
Buat menemani
Perjuangan ini………..
Sahabat sejati mengalun lembut dari speaker HP Aza.
“ ‘afwan ya dik, ada telpon bentar.” Ucap Aza pada akhwat-akhwat keputrian SMA 8. Di layar HP Aza terpampang nama kak Ari.
” Assalamu’alaikum kak, ada apa?” tanya Aza to the point.
” Wa’alaikum salam, besok sabtu-ahad ada agenda nggak dik?”
” Em...... kayaknya nggak ada, emang ada apa kak?”
” Nggak, kalau adik nggak ada agenda, kakak minta buat datang ke SMA CENDEKIA, mereka ada MABIT. Barusan aku ditelpon Ridwan, katanya mereka masih bingung mencari pengisi acara!”
” InsyaAllah Aza berangkat. Kalau kakak gimana?”
” InsyaAllah, kalau Allah masih mengizinkan untuk sampai sana.”
” Kenapa ya kak, sekarang mereka seperti tidak membutuhkan kita. Kemarin mereka ada masalah tidak bilang sama kita. Sekarang mereka ada mabit, ngasih taunya ke kita juga mepet banget!” keluh Aza kemudian.
” Kakak juga merasakan hal yang sama. Tapi khusnudzon aja lah dik, mungkin mereka pengin mandiri dan mungkin mereka melihat kita terlalu sibuk, jadi mereka nggak mau tambah ngrepotin kita.” papar Ari bijaksana.
” Udah dulu ya kak, Aza lagi ngisi liqo’ ni, kasian adik-adiknya pada nunggu.”
” Ya dah ’afwan dah ganggu. Sampai ketemu besok. Wassalamu’alaikum.”
“ Wa’alaikumsalam.”
Hari sabtu sore.......................
“ Kamu yakin mau pergi Za, muka kamu pucat banget gitu, gimana kalau ntar terjadi apa-apa?” ucap Azizah khawatir.
“ InsyaAllah Aza nggak pa-pa. Selagi Allah masih memberi kesempatan bagi Aza dijalan ini, Aza akan menjalankannya.” Ucap Aza sambil mengulaskan senyum kecil dibibir pucatnya.
“ Subhanallah! Ghiroh yang ada pada dirimu tak pernah padam.”
“ Udah lah Zi, jangan menabur pasir dimukaku. Udah sore, aku berangkat dulu ya, asalamu’alaikum.”
“ Wa’alaikumsalam, hati-hati di jalan, salam buat yang ada di sana,” pesan Azizah.
Aza berjalan menyusuri gang kostnya menuju jalan raya. Dia memegang mushaf kecil sambil menunggu Bus kota yang akan membawanya ke SMA yang penuh kenangan baginya, SMA CENDEKIA.
Sesampainya di SMA CENDEKIA dia langsung menuju masjid sekolah, tempat nongkrongnya dulu semasa SMA sepulang sekolah.
“ Assalamu’alaikum, apa kabar saudaraku sekalian.........” lagu kebangsaan itu tiba-tiba meluncur dari mulut Aza ketika melihat kerumunan akhwat di serambi masjid.
“ Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab mereka bersamaan sambil menoleh ke arah datangnya Aza.
“ Kak Aza.....!” teriak Fateha histeris sambil lari dan memeluk Aza.
“ He.....he.....he......., aurotnya dijaga Neng!” ucap Aza memperingatkan.
“ Kan semua tubuh Fateha dah ditutupi kak!” jawab Fateha lugu.
“ Suara kamu tu!”
“ Ya ‘afwan kak, Fateha kan kangen,” ucap sang ketua keputrian itu manja.
“ Oya dik, dik Ridwan di mana?”
“ Tu di dalem sama ikhwan yang lain.”
Tanpa berkata sepatah katapun dia melangkahkan kaki memasuki masjid.
” Assalamu’alaikum, ’afwan kakak masuk.” ucap Aza dari balik hijab.
” Wa’alaikum salam, ada apa kak?” tanya Ridwan.
” Kak Ari nggak bisa datang sekarang, dia mungkin datang agak terlambat, kalau memang acara sudah bisa dimulai, dimulai aja, takutnya ntar kesorean,” ucap Aza kemudian.
” Terus pengenalan organisasinya gimana kak? Kan habis pembukaan langsung acara itu.”
” Kalau kakak gimana, tadi kak Ari juga udah menitipkan sama kakak,” ucap Aza menawarkan diri.
Jam dinding yang tertempel di atas mihrab telah menunjukkan pukul setengah lima, acara pembukaan mabit sudah selesai. Acara selanjutnya, pengenalan organisasi.
” Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” sapa Aza kepada semua orang yang ada di majlis itu. Diikuti dengan balasan salam dari semua yang hadir.
” Sebelumnya kakak mau minta maaf atas ketidak hadiran kak Ari pada session ini, tapi insyaAllah beliaunya nanti tetap datang,” ucap Aza mengawali pembicaraan.” Kakak sebenarnya bingung mau ngomong apa disini. Mungkin langsung dibuka sesi tanya jawab aja ya........?” belum selesai Aza melanjutkan kata-katanya, sudah banyak peserta yang mengangkat tangan.
” Kak, tolong critain donk gimana Rohis kita pada angkatan kakak, kan kata kepala sekolah maju banget,” ucap salah satu dari mereka.
” Sebenarnya nggak sih. Yang maju banget itu angkatan tiga tahun sebelum angkatan kakak. Waktu itu angkatan kakak kelihatan maju karena mungkin memang angkatan sebelumnya kelihatan pasif. Sedangkan pada waktu angkatan kakak, kakak dan teman-teman yang lain mencoba untuk mendaki lagi, walaupun itu, jujur dirasa sangat sulit. Satu hal yang selalu buat kita semanagat, pekik takbir dari saudara kita. Dan alhamdulillah rohis kita menjadi aktif kembali, tapi itu juga berkat bantuan kak Ari, ketua rohis sebelum angkatan kakak,.....................” papar Aza panjang lebar.
” Kan dulu dibuat peraturan-peraturan kayak gitu kan kak? Dulu pengurusnya ada yang melanggar peraturan itu nggak kak?” tiba-tiba pertanyaan itu keluar dari salah satu peserta. Aza tertegun sejenak, dia belum siap dengan pertanyaan itu apalagi jawabannya.
” Assalamu’alaikum, ada dik, bahkan satu hari setelah peraturan itu disahkan.” ucap seorang ikhwan yang tiba-tiba muncul dari balik pintu masjid. Semua mata terpusat padanya dengan tatapan penuh tanya.”........ tapi hanya sebuah komitmen dik, tidak ada status yang jelas,” lanjut ikhwan itu. Muka Aza semakin tertunduk menatap karpet masjid dengan menahan air matanya. ” komitmen dari seorang ikhwan kepada seorang akhwat. Seorang ikhwan itu berjanji akan datang kepada akhwat itu lima tahun kemudian dan lima tahun itu tepat hari ini.” semua mulut terkatup, seakan tersihir oleh kata-kata ikhwan yang baru datang itu . Aza mencoba mengumpukan tenaga untuk membuka mulutnya.
” Kok jadi diem semua sih! tapi jangan ngikut jejaknya ya dik, bakal nyesel seumur hidup lho dik, walaupun hanya komitmen. Ya nggak kak Ari.” timpal Aza memecahkan suasana. Ari hanya tersenyum simpul sambil berjalan mendekati Ridwan dan duduk disampingnya.
☺☺☺
” Dik Akhwat.....!” panggil seseorang dari belakang. Aza kaget dan langsung menoleh ke belakang, tapi dia langsung memalingkan mukanya lagi.
” ’afwan dik, kalau tadi kata-kata kakak membuat hati adik terluka lagi. Kakak cuma pengin ngingetin dan nepatin janji kakak.”
” ’afwan jangan bahas itu sekarang! Aza mo bantu adik-adik menyiapkan makan malam,” ucap Aza mnghindar dan langsung pergi ke ruang makan.
” Kak, yang tadi dimaksud kak Ari siapa sih kak?” tanya Fateha yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Aza.
” udahlah jangan bahas itu lagi dik!”
” ’afwan kak, apa itu kakak sama kak Ari?” tanya Fateha polos.. kata-kata yang keluar terakhir dari bibir mungil Fateha itu membuat luka di hati Aza semakin menganga.
” Dik mungkin memang sebaiknya kamu tahu, agar kamu juga bisa berhati-hati. Memang itu merupakan kisah kelam kakak yang kakak sesali selama ini. Sejak kelas X, kakak sama kak Ari emang lumayan dekat, awalnya kak Ari nggak tau nama kakak, dia cuma tahu kalau kakak dekat sama anak rohis yang akhwat dan kakak juga sudah pakai jilbab lebar sejak kelas X, sehingga dia suka manggil kakak dengan sebutan dik Akhwat. Hubungan kita semakin dekat karena keadaan di rohis juga, yang benar-benar diujung tanduk waktu itu. Akhirnya kak Ari nembak kakak. Waktu itu pulang sekolah, kakak sedang merapikan file rohis yang ada di almari, tiba-tba dia mendekati kakak dari balik hijab. Dia langsung ngomong (dik, mau nggak jadi pacar kakak?) waktu itu kakak kira dia cuma bercanda masalahnya emang dia suka banget ngeledek kakak (kak, kalau bercanda jangan kelewatan donk!), dia menjawab ( bener dik, kakak nggak bercanda!). Akhirnya kakak debat sama dia tentang prinsip-prinsip kita, sampai kakak hampir menangis dan dia pun bilang (kalau alasan adik itu, kakak akan datang lima tahun lagi). Dia memang orangnya keras. Mbak tak sanggup berucap lagi, mbak hanya diam. Tapi dalam waktu yang sama kakak juga dapet kiriman surat dari teman SMP kakak yang intinya juga sama.”
” Terus keputusan kakak gimana?”
” Kakak janji dalam hati, siapa yang terlebih dulu ngomong sama orang tua kakak itu yang akan kakak terima, karena berarti dia benar-benar serius.”
☺☺☺
Selama mabit berlangsung Aza selalu menghindar dari Ari. Dia belum siap dengan jawaban yang akan dia berikan kepada Ari.
” Dik lihat kak Aza nggak?” tanya Ari kepada Fateha yang sedang membersihkan masjid.
” Baru aja kak Aza pamit, katanya besok ada acara bedah buku diluar kota jadi dia harus siap-siap. Tapi mungkin masih sampai depan.”
” Ya dah kakak pamit juga ya, ’afwan kalau banyak salah, sampaikan ke adik-adik yang lain juga ya. Assalamu’alaikum.”
” Kak Ari, kak Aza pingsan didepan pintu gerbang!” teriak Ridwan yang baru dari luar.
” Innalillahi wa inna ilaihi roji’un,” Ari langsung lari menuju pintu gerbang diikuti akhwat yang lain.
” Za....!” pekik Ari dan tanganya siap meraih tubuh Aza yang terkulai lemah.
” Kak..!” cegah Fateha dengan isyaratnya, membuat Ari mengurungkan niatnya.
” Astaghfirullah, dia bukan muhrimku!” ucap Ari dalam hati.
” Mendingan cepat kita bawa ke rumah sakit, kakak ambil mobil dulu,” ucap Ari kemudian.
Setelah setengah jam di rumah sakit..............
” Gimana keadaannya dok?” tanya Ari kepada dokter yang baru saja keluar dari ruang pemeriksaan.
” Kondisinya sangat menurun, saya sendiri tidak mengira kalau kondisinya akan menurun drastis secepat ini.?”
” maksud dokter?”
” Memang anda belum tahu, bukannya anda kakaknya kan?”
” Bukan dok, saya temannya. Memang apa yang sebenarnya terjadi dok?”
” Dia menderita kanker paru-paru. Dia pasien tetap saya. Kemarin dia check up, kondisinya masih bagus. Tapi sekarang kondisinya menurun drastis. Mungkin ini disebabkan karena terlalu capek atau memiliki beban pikiran yang berat.”
” Kanker paru-paru dok?” tanya Ari tak percaya, walaupun dia tahu bahwa sejak SMA memang Aza sering sakit, tapi dia selalu menutupi dengan semangatnya yang membara.
” berikan dukungan untuknya dalam menghadapi ini semua,” ucap dokter itu yang terakhir kalinya sambil berlalu.
Dalam alam bawah sadar, Aza tak lelah-lelahnya menyebut Asma Allah. Matanya terpejam, tapi mulutnya senantiasa berzikir.
” Udah, kakak pulang aja, istirahat. Tadi malam pasti kakak kurang tidur kan? Biar Azizah yang nungguin Aza.” ucap Azizah pada Ari.
” Nggak dik, Aza jadi gini juga gara-gara kakak!”
” Maksud kakak? Kakak mengungkit masalah yang lima tahun yang lalu itu?” Ari hanya membisu.” memang Azizah nggak tahu pasti soal peristiwa itu, tapi kan kakak juga tahu sendiri kondisi Aza sejak dulu, habis peristiwa itu aja dia sampai nggak masuk sekolah gara-gara sakit juga kan?”
” Zi....!uhuk....uhuk.....!” panggiAza yang baru saja sadar.
” kamu sudah sadar Za? Alhamdulillah,” ucap Ari bahagia. Aza hanya mengukirkan senyuman di bibir pucatnya.
“ Zi, aku harus pulang sekarang, besok launcing buku perdanaku!” paksa Aza.
“ Jangan pikirkan itu dulu. Kamu istirahat dulu, kalau besok pagi kamu sudah sehat, kakak janji besok pagi-pagi kakak anter kamu ke sana.”
” Iya Za, tadi aku juga udah ngomong sama panitianya, kalau kamu tiba-tiba sakit dan masuk rumah sakit. Pasti panitianya memaklumi.” timpal Azizah.
” Makasih ya. Uhuk....uhuk.....!” batuk Aza semakin menjadi, nafasnya juga pendek-pendek.
” Za kamu nggak pa-pa?” tanya Ari panik.
” Nggak pa-pa, kak.”
” Minum dulu Za, biar agak enakan,” ucap Azizah sambil membuka tangan Aza yang menutup mulutnya.” kamu batuk darah Za?” pekik Azizah tertahan. Ari tak kuasa melihat kondisi Aza, dia mencoba sekuat tenaga untuk menahan air matanya agar tidak jatuh, sambil melangkah meninggalkan ruang perawatan untuk memanggil dokter. Beberapa saat kemudian Azizah keluar.
” Gimana Aza, dik?”
” Udah mendingan, tadi sepertinya dikasih obat penenang sama dokter. Sekarang dia lagi istirahat.”
” Ya udah nitip Aza ya dik, kakak mau ke masjid, kalau ada apa-apa langsung panggil kakak.”
☺☺☺
” Assalamu’alaikum.” ucap beberapa orang dari luar kamar perawatan Aza. Azizah kaget karena baru saja dia terlelap. Jam yang melingkar ditangannya menujukkan pukul setengah lima.
” Wa’alaikumsalam.” jawab Azizah sambil membuka pintu.
” Bapak, ibu! Kok cepet banget!” ucap Azizah di depan pintu, sambil mencium tangan ibu Aza.
” Alhamdulillah kemarin sore langsung dapet tiket,” jawab seorang ihwan yang datang bersama Ayah dan ibu Aza.
” Gimana keadaan Aza, Zi?” tanya ibu Aza sambil mendekati tubuh Aza yang terkulai lemah dan menciumnya.
” Alhamdulillah tadi udah siuman kira-kira jam satu. Sekarang dia sedang tidur. Kasihan Aza bu, nanti jam sembilan dia ada bedah buku, sampai sekarang belum ada jalan keluarnya. Nggak mungkin diundur kan?”
” Saya siap menggantikannya, saya tahu betul isi buku itu. Sebenarnya itu hasil pemikiran kita berdua. Di mana tempatnya?” sela ikhwan tadi yang datang bersama orang tua Aza.
” Oya, ibu sampai lupa. Ini Rafi, teman Aza waktu SMP. Mungkin Aza sudah sering cerita,” ucap ibu Aza kemudian.
” Saya Azizah, teman kost Aza. Kalau gitu nanti biar diantar kak Ari, kalau naik bus terlalu lama.”
” Uhuk.......uhuk.........!” terdengar suara batuk Aza, dia terbangun dari tidurnya. ” ibu, ayah, Rafi? Kapan kalian datang?” tanya Aza lemah, sambil memegangi dadanya yang semakin sakit.
” Baru saja kita sampai, gimana keadaanmu Za?” ucap rafi.
” Alhamdulillah udah mendingan. Maaf aku belum bisa pulang untuk mempersiapkan acara kita. Kapan kamu pulang?”
” Aku sampai bogor kemarin pagi, aku kira kamu udah pulang. Tapi nggak pa-pa aku jadi tahu Solo sekarang,” ucap Rafi dengan sedikit candaannya.
” Assalamu’alikum,” ucap Ari dari luar.
“ Wa’alaikumsalam,” jawab mereka yang didalam, bersamaan.
“ Bu, ini kak Ari, yang kemarin telpon ibu dan mengantar Aza ke rumah sakit.” Terang Azizah. Mendengar ucapan Azizah, roman muka Rafi menjadi berubah. Begitu juga Ari, ketika melihat Rafi. Karena dia tahu, Aza tidak mempunyai saudara laki-laki. Tapi mereka menutupinya dengan saling melempar senyum dan berjabat tangan, berkenalan.
“ Terimakasih, ya nak Ari!” ucap ibu Aza.
“ Sama-sama bu.”
“Oya kak, yang berangkat membedah buku jadinya Rafi. Kakak tolong antar dia ya?” ucap Azizah kemudian.
“ Nggak pa-pa kan Za, aku yang membedah?”
“ Nggak papa, itu kan juga hak kamu. Itu kan juga buku kamu.”
” Ya udah, kita berangkat sekarang. Di mana alamatmya?” ucap Ari kemudian, sebenarnya dia masih penasaran, siapa Rafi sebenarnya?
” makasih ya kak! Makasih ya Raf!” ucap Aza kepada mereka berdua.
Selama dalam perjalanan mereka saling berdiam diri. Sebenarnya di hati mereka masing-masing berkecamuk pertanyaan-pertanyaan yang tak terungkapkan. Tiba-tiba HP di saku Rafi bergetar.
” Aslm Raf! ’af1 tak sengaja aku tadi melihat ada kecemburuan pada kalian berdua. Aku minta maaf, aku tak bermaksud menghianatimu, aku menganggap kak Ari hanya sebatas kakak. Dan tolong sampaikan maafku pada kak Ari dan sampaikan juga bahwa kita sebentar lagi akan menikah. Sukron!” sms dari Aza.
” ’afwan ya. Oya akh, antum minggu depan ikut ke Bogor kan?” Rafi mencoba angkat bicara untuk memecah kebekuan.
” Ke Bogor? Ngapain?” tanya Ari kaget.
” ’afwan ya akh, sebelumnya! Saya tidak tahu sebenarnya apa yang terjadi antara antum dan Aza. Saya diberi amanah oleh Aza untuk menyampaikan maafnya ke antum, minggu depan kita akan menikah,” papar Rafi.
” Barakallah ya!” ucap Ari berat.
☺☺☺
Dua minggu telah berlalu. Aza telah resmi menjadi istri Rafi. Tapi, untuk sementara mereka harus berpisah lagi, Rafi harus menyelesaikan kuliahnya di luar negri, begitu juga Aza di Solo.
“ Bi, ini ada sesuatu dariku, tapi jangan dibuka sekarang!” ucap Aza sambil menyerahkan sebuah kotak dibungkus kertas berwarna coklat.
“ OK! Abi pamit dulu ya mi. Jaga diri baik-baik! ucap Rafi. Aza hanya mengangguk dan menjabat tangan suaminya itu. Tapi tiba-tiba sakit Aza kambuh. Dia batuk darah, nafasnya pendek-pendek dan akhirnya pingsan.
“ Mi…….!Mi…… ¡ Umi……!” panggil Rafi panik. Dia langsung membawa Aza ke rumah sakit. Pada saat menunggu Aza diperiksa, Rafi membuka kotak kecil pemberian Aza, sebuah mushaf kecil dan secarik ketas.


Assalamu’alikum wr wb……

Suamiku yang senantiasa aku cintai karena Allah.
Bi, kehidupan dan kematian seseorang hanya Allahlah yang menentukan, sang penguasa alam semesta. Maafkan segala hilafku, kalau selama satu minggu ini aku belum bisa menjadi istri yang baik untukmu dan dalam persahabatan kita dulu. Aku juga minta maaf, belum bisa membersamaimu.
Mungkin ketika kau pulang nanti aku sudah tidak bisa lagi menjemputmu di bandara. Tapi semoga Allah mengizinkan kita bertemu disurgaNya.
Aku nggak mau kalau kepergianku nanti diiringi oleh tetesan air matamu.

Wassalamu’alaikum wr wb


Istrimu.....



MAAF’09

“ Pa! Anton udah besar, Anton bisa menentukan kehidupan Anton sendiri. Anton bukan robot yang bisa dimainkan Papa seenaknya.” Ucapku dengan nada tinggi. Mama hanya bisa menangis disampin papa.
” Mau jadi apa kamu dengan kertas-kertas itu. Papa seperti ini juga demi masa depan kamu, masa depan rumah sakit kita juga. Apa kamu mau rumah sakit yang papa rintis susah payah harus jatuh ketangan orang lain, kamu anak papa satu-satunya.” Ucap Papa tak kalah tinggi.
” Papa egois!” Ucapku dan langsung pergi ke kamar.
Aku masukkan beberapa helai baju dan notebook kedalam tas ransel. Aku melangkah pergi keluar rumah.
” Kalau kamu mau meninggalkan rumah ini, tinggalkan semua fasilitas dari papa dan jangan pernah kembali kerumah ini sebelum penghasilan kamu melebihi penghasilan seorang dokter!” Ucap papa ketika melihatku melangkahkan kaki meninggalkan rumah.
” Oke Pa! Ya memang Anton nggak berhak dengan semua ini. Anton akan buktikan, Anton bisa hidup tanpa papa.” Ucapku sambil meletakkan semua fasilitas dari papa diatas meja, bahkan file novelku yang hapir jadi aku tinggalkan begitu saja bersama notebook kesayanganku, sebuah ATM pribadiku yang berisi uang dari hasil menulis pun aku tinggalkan.
Aku nggak tau harus melangkahkan kaki kemana malam itu, uang sepeser pun tak ada yang tersisa dalam saku celanaku. Tapi aku tetap yakin aku tetap bisa hidup tanpa kemewahan yang ada di rumah.
” Anton......!tunggu sebentar!” Ucap mama dari depan pintu dan lari mengejarku sambil menyeka air matanya, tapi aku tak peduli.
” Mama, maafkan Anton, Anton pasti kembali untuk mama.” Ucapku dalam hati.
” Mama masuk! Biarkan dia pergi!” Hardik papa, sambil menyeret mama memasuki rumah.
Dingin mulai merasuki tubuhku yang hanya berbalut kaos pendek, aku terus melangkahkan kaki menyusuri jalan meninggalkan kompleks rumahku. Ku putar keras otakku. Bagaimana aku bisa hidup untuk kedepannya, bahkan selembar kertas HVS dan bolpoin saja sebagai senjataku untuk mencari uang pun aku tak punya.
” Yups! Rental komputer.” Ucapku sediri sambil berjingkrak kegirangan.
” Papa...............! Aku bisa hidup tanpa hartamu Pa!” Teriakku dikegelapan malam sabil mengusir dinginnya malam.
Matahari pun mulai merangkak meninggalkan persembunyianya untuk memancarkan cahayanya. Tak terasa aku telah berjalan jauh meninggalkan rumah, belasan kilometer telah ku tempuh selama semalam. Cacing diperutku mulai protes minta jatah, tapi tetap aku menahannya, ku telan ludah berkali-kali untuk mengelabuhi cacing-cacing yang terus protes. Aku mulai mencari tempat rental komputer. Paling nggak disana aku bisa ngetik tulisan-tulisaku degan gratis kalau nggak ada orderan. Saat ini aku tak butuh uang, yang aku butuhkan hanyalah sesuap nasi dan aku bisa selalu menuangkan ide-ideku. Satu persatu aku datangi rentalan komputer yang aku lihat sepanjang perjalanan, tapi belum ada satupun yang memberikan pekerjaan untukku.
” Ternyata sulit juga ya mencari pekerjaan. Tak segampang yang aku pikirkan.” Gumamku dalam hati sambil duduk beristirahat disebuah halte bus.
Belum ada sesuap makanan dan setetes air pun yang melewati kerongonganku, padahal matahari sudah merangkak siap bersenbunyi diperaduannya.
Tiba-tiba mataku mulai rabun, sakit yang amat sangat mulai menyerang kepalaku. Jangan sampai aku pinsan, aku harus bisa bertahan.
” Mas, kenapa mas?” tanya orang yang ada disebelahku yang sudah tak terlihat wajahnya lagi olehku.
” Nggak pa-pa.” Jawabku terbata sambil terus memegangi kepalaku yang serasa mau pecah. Tubuhku mulai oleng, tapi aku tetap mencoba untuk bertahan.
Sesaat kemudian, satu-satunya orang yang ada dihalte bersamaku tadi terlihat telah mendapatkan bus yang ditunggunya. Dan tenagaku pun telah habis untuk tetap bertahan, aku benar benar oleng, tersungkur diatas trotoar. Semuanya gelap, ntah karena malam sudah mulai merangkak atau karena aku sudah kehilangan sebagian dari kesadaranku.
Kupandangi sekelilingku, sebuah ruangan berukuran 3x3 meter dengan suasana serba putih. Terlihat seseorang sedang membaca sesuatu yang aku sudah lupa namanya, dulu aku pernah belajar itu sewaktu kecil, tapi sekarang sudah lama aku tinggalkan. Lantunan itu sungguh merdu, seperti ada energi yang masuk kedalam relung jiwaku.
Aku baru sadar ketika melihat nama rumah sakit yang tertera dalam selimut yang aku kenakan, Harapan Medical Center rumah sakit punya papa. Aku bergegas untuk pergi dari ruangan itu, aku nggak mau kalau papa sampai tahu aku berada disini. Tapi ternyata tubuhku tak sekuat yang aku perkirakan, tubuhku oleng dan tersungkur diatas lantai rumah sakit.
” Hei tubuh kamu belum kuat, jangan bangun dulu, kamu baru saja koma dari dua hari yang lalu.” Ucapnya sambil mendekatiku dan meraih tubuhku.
” Aku harus pergi sekarang. Aku tahu kamu udah membantuku, aku hanya bisa mengucapkan terimakasih, tapi suatu hari nanti aku akan mengembalikan semuanya.” Ucapku sabil mencoba untuk berdiri, dibantu dia.
” Aku ihlas kok. Namaku Raihan kamu siapa?”
” Anton.” Jawabku singkat.
” Ya dah, kalau kamu mau pulang, aku antar. Rumah kamu dimana? Aku minta maaf kemarin tidak menghubungi keluarga kamu, aku nggak tau bagaimana caranya, tak ada HP atau dompet yang berada disakumu.”
” Nggak usah! Aku bisa pulang sendiri. Aku nggak mau terlalu banyak merepotkanmu.” Ucapku sambil mecoba keluar dari kamar perawatan. Tapi kakiku benar-benar berat untuk melangkah dan kepalaku juga semakin sakit. Aku kembali tersungkur.
“ Kamu masih sangat lemah. Jangan keras kepala, kamu masih harus dirawat disini.” Tegasnya sambil meraihku.
” Nggak! aku harus pergi dari sini.”
” Oke, terserah kamu!” Ucapnya lagi sambil melepaskan tubuhku.
Tiba-tiba ada seorang dokter dan perawat yang masuk kedalam ruang perawatanku.
” Sudah siuman? mau kemana? jangan banyak beraktifitas dulu.” Ucap dokter itu. Untung dokter baru, yang belum aku kenal dan dia pasti juga tidak mengenalku.
” Dia maksa pergi dok!” Ucap Raihan.” Oya, gimana hasilnya dok?”
” Bisa bertemu dengan orang tua pasien? Hasilnya lebih baik saya sapaikan kepada orang tuanya langsung.” Ucap dokter itu lagi.
” Aku sudah tidak punya orang tua.” Tanpa pikir panjang langsung aku ambil map yang dipegang perawat yang datang bersama dokter itu.
” Jangan!” Teriak perawat itu, yang tidak menyangka apa yang akan aku lakukan.
” Nggak mungkin!” Aku nggak percaya dengan deretan tulisan yang aku lihat.
” Nggak mungkin. Katakan ini salah dok!” Ucapku sambil merobek kertas hasil pemeriksaan, tak terkendali. Aku belum bisa menerima semua ini. Nggak mungkin aku mengalami hal yang sama seperti tokoh novel yang sedang aku buat.
“ Saya harap kamu bisa menerima semua ini. Nanti kamu biar ditangani dokter Aji langsung sebagai dokter pribadi kamu. Kamu harus menjalani perawatan secara intensif.”
“ Dokter Aji dok?” Tanyaku kaget. Nggak mungin secepat ini aku harus ketemu papa lagi. Aku juga nggak mau mama tau aku sedang sekarat.
“ Iya dokter Aji. Tadi sebenarnya beliau mau datang langsung bersama saya. Tapi katanya sedang ada urusan keluarga. Sebentar lagi beliau kesini.”
“ Semuanya terimakasih, tapi sekarang aku harus pergi!” Ucapku kepada mereka, dan sekuat tenaga aku mencoba untuk lari meninggalkan rumah sakit itu. Aku nggak mau sampai terlambat dan bertemu papa.
“ Bruk!”
” Anton?”
” Papa?”
” Kamu sakit?”
” lepaskan! Aku bisa hidup tanpa kamu!” Bentakku sambil melepaskan cengkeraman tangan papa. Aku lari keluar rumah sakit, berlari sekuat kakiku dapat melangah.
☺☺☺
” Om Anton, main bola yuk!” Ajak Rafi anak mas Raihan yang baru berumur 3 tahun.
” Kan om Anton baru sakit, besok kalo om Anton sudah sembuh ya sayang. Main yang lain dulu aja ya!” Ucap mbak Salma, istri mas Raihan. Memang setelah kejadian dirumah sakit, aku diajak pulang ke rumah mas Raihan. Aku tak pernah cerita apa yang sebenarnya terjadi. Mas Raihan hanya tahu aku sudah tidak punya keluarga lagi. Aku memang terlalu banyak berhutang budi pada keluarga ini, tapi baru disinilah aku benar-benar merasakan sebuah keluarga yang aku rindukan selama ini.
” Nggak pa-pa Mbak aku dah sembuh.” Ucapku sambil membopong Rafi keluar.
” Ah umi payah! omnya ja mau.”
” Ton! coba sini bentar!” Ditengah-tengah aku bermain bola bersama Rafi, mas Raihan memanggilku.
” Ya Mas!” Ucaku sambil berlari kecil mendekati mas Raihan, meninggalkan Rafi yang sedang asyik bermain bola.
” Kamu benar-benar udah sehat?”
” Iya Mas. Buktinya aku udah bisa main bola sama Rafi kan. Emang da apa Mas?”
” Gini, hari ini jadwalku full, pagi ini aku harus ikut bakti sosial, ntar sore rapat dan ntar malem ngisi kajian, mbakmu juga. Sedangkan Rahmat mengundurkan diri kemarin, dia udah dapet pekerjaan yang lebih mapan. Kamu bisa program grafis nggak?”
” Bisa Mas! corel, fotoshop, autocad.”
“ Bagus! aku percaya sama kamu. Ini ada banyak banget orderan, aku minta tolong kamu membantu mengerjakannya ya. Semua catatannya ada dibuku ini. Tapi kamu jangan memaksakan diri, kalau capek istirahat. Ntar coba aku cari penggati Rahmat.”
” Nggak usah dicari Mas, ini didepanmu udah ada penggantinya yang siap kerja siang malam.” Mas Raihan hanya tersenyum penuh arti dan langsung pamit pergi.
” Makasih ya Mas!”
” Sama-sama Ton.”
Seisi rumah sudah pergi. Rafi juga diajak mbak Salma ikut kegiatannya. Aku mulai mengerjakan orderan percetakannya mas Raihan. Sepi, aku mencoba mencari lagu-lagu yang ada dikomputer yang sedang aku gunakan, tapi tak ada satu pun lagu yang aku kenal. Berhubung sepi banget, terpaksa aku dengarkan satu persatu dari lagu-lagu itu. Enak juga ditelinga, selain itu hati terasa nyaman.
☺☺☺
Sungguh terjadi perubahan besar dalam diriku yang terjadi selama tiga bulan terakhir ini. Tepatnya setelah aku mengenal mas Raihan. Aku sekarang lebih mengenal Sang Maha Pencipta yang Maha Agung.
Mas Raihan semakin puas dengan hasil kerjaku dipercetakan. Setiap malam diluar pekerjaan, mas Raihan juga mengijinkan aku memakai komputernya untuk menuangkan ide-ideku. Tapi sampai sekarang memang belum ada penerbit yang mau menerbitkan tulisanku. Mungkin memang benar kata mas Raihan kemarin ” Ridho Allah ada di Ridho orang tua.”
” Asalamu’alikum! Belum tidur Ton?” Tiba-tiba mas Raihan datang, membuyarkan lamunanku.
” Wa’alaikumsalam. Baru pulang Mas? Belum Mas, tanggung.”
” Iya nih, badan pegel-pegel semua. Ngomong-ngomon nasib naskah kamu gimana?”
” Ditolak lagi Mas.” Jawabku sambil meluruskan badan yang terasa kaku.” kayaknya minum coklat panas enak ya Mas. Biar aku bikinin ya Mas.” Ucapku lagi sambil beranjak kedapur.
” Ton, gimana kalau kamu cetak sendiri beberapa eksemplar, ntar coba tak pasarin ketemen-temen deh. Isinya bagus kok, insyaAllah banyak yang suka.”
” Nggak usah lah Mas, cetak kan juga butuh biaya, aku dah banyak ngrepotin mas. Aku coba cari penerbit lain lagi aja.” Jawabku sambil membuat coklat panas.
Tiba-tiba pandanganku mulai rabun, kepalaku seperti mau pecah, aku nggak bisa mengendalikan diriku.
” Prang!” Akhirnya cangkir yang aku bawa terjatuh.
” Astaghfiruallah, Anton!” Mas Raihan langsung mendekatiku, tapi setelah itu aku nggak tau apalagi yang terjadi pada diriku.
☺☺☺
Ciuman hangat mendarat dikeningku, ntah itu mimpi atau emang kenyatan. Tetesan air juga jatuh dipipiku. Aku berusaha untuk membuka mata. Ku edarkan pandanganku diruang serba steril itu, Mas Raihan, papa, mama, dan seorang anak seusia SMP yang duduk di kursi roda terlihat samar.
” Sayang kamu udah sadar?” Tanya mama sambil menyeka air matanya.
” Ma-ma? Pa-pa? Ma-afin An-ton!” Lidahku kelu untuk berucap.
“ Papa yang seharusnya minta maaf sayang, papa memang terlalu egois. Kamu mau kan maafin papa?” Ucap papa menyesal. Aku hanya mengangguk.” Oya ada seseorang yang ingin ketemu sama kamu.” Papa mendorong kursi roda yang diduduki anak tadi.
” Kak makasih banget ya kak, kakak udah nulis buku ini. Buku ini telah menyelamatkan aku, berkat buku ini aku jadi punya semangat lagi untuk hidup.” Ucap anak itu dengan berlinang air mata. Aku masih bingung, kenapa buku itu ada ditangan anak itu, bukankan belum pernah tembus penerbitan? Tapi sepertinya mas Raihan bisa menangkap kebingunganku.
” Kamu sudah satu bulan lebih koma Ton. Setelah malam itu kamu masuk rumah sakit, Aku mencoba mencetak buku kamu dan mencoba memasarkannya. Dan Dinda ini adalah salah satu dari orang yang membeli buku kamu.”
” Dinda adalah salah satu pasien papa dan waktu papa memeriksa keadaan Dinda, mamanya bilang kalau Dinda mendapatkan motivasi besar dari buku kamu itu. Dari situlah papa mulai sadar.” Potong papa dengan mata berkaca-kaca.
” Wah tapi Anton belum bisa punya penghasilan melebihi penghasilan seorang dokter pa!” Ucapku mencairkan keadaan. Semua tertawa, termasuk aku dengan menahan rasa sakit yang amat sangat.
” Ton, ni barusan aku dapet sms dari penerbitan, buku kamu bisa terbit bulan ini.”Ucap mas Raihan disela-sela gelak tawa.
” Alhamdulillah.” Ucap kita bersamaan.
Mataku mulai rabun lagi dan akhirnya benar-benar gelap, dadaku juga sulit untuk bernafas. Mungkinkah ini sudah saatnya aku menghadapNya? Tak tahu lah, tapi aku bahagia.

THE END


















THANK’S SARAH…………..!’07

“ Tak pernah aku bayangkan, dia yang super lincah main basket, jadi incaran semua cewek di sekolah. Dia yang selalu jahilin aku. Dia Raihan, kapten basket sekolahku. Dulu aku sangat membencinya. Tapi ketika peristiwa kemarin, pandanganku tentang dia berubah seratus delapan puluh derajat. Ya, ketika aku menemukan botol obat di pinggir lapangan basket dan nama Raihan Pratama tertera di botol itu. Akhirnya aku tahu bahwa dia mengidap kelainan jantung yang cukup serius sejak kecil, dan telah divonis dokter umurnya tidak lama lagi. Aku juga tahu tujuannya pindah ke Indonesia, dia ingin mencari kebahagiaan sejati dan lari dari keegoisan keluarganya yang tidak pernah mempedulikannya,” gumam sarah dalam hati. Semua bayang-bayang tentang Raihan terlintas jelas di kepalanya lagi.
” Hei...!” hentakan dari belakang, membuat sarah terbangun dari lamunannya. ” hayo....? ngalamunin siapa? Nggak biasanya kamu nongkrong di sini, apalagi yang lagi main basket Raihan. Apa jangan-jangan kamu lagi ngalamunin Raihan ya?” ledek Keira.
” Ih apaan sih kamu. Kamu kan tahu sendiri, aku benci banget sama tu orang.” Ucap sarah menutupi perasaan yang sebenarnya.
” kan perbedaan benci sama cinta tu tipis banget, malah kadang nggak bisa dibedakan,” ledek Keira lagi.
” ih Keira bisanya ngledek terus. Kamu juga ngapain di sini? Ngecengin Rama ya.....? atau.... malah jangan-jangan Raihan lagi,” balas Sarah.
Bel masuk terdengar begitu nyaring, membuat perhelatan antara Sarah dan Keira terhenti. Mereka kembali ke kelas. Tiba-tiba ada getaran yang bersumber dari saku rok abu-abu Sarah, membuatnya menghentikan langkah.
” Siapa Sar?” tanya Keira penasaran.
” Ada deh.....! mau tau aja!” ucap sarah, membuat Keira tambah penasaran.
“ Sar ntar qt ketemu di taman belakan, ptg.” sms dari Raihan.
Sarah memijit-mijit keyped Hpnya, membalas sms dari Raihan sambil berjalan ke kelas.
“ Ok! Tp jgn lm2. cz, hbs ni q da acara.’ Balas Sarah.
Setelah sampai di kelas Hp Sarah bergetar lagi, ternyata cuma misscalled dari Raihan. Sarah menoleh ke belakang, ke tempat duduk Raihan. Raihan hanya memberikan kode dengan tangannnya sambil melengkungkan bibirnya yang kian hari kian memucat.
“ Ehem…..ehem…., jadi bener nih, beda benci sama cinta tipis banget?” Keira mulai meledek lagi.
Bel kebebasan terdengar begitu nyaring, melukiskan wajah ceria bagi yang mendengarnya, termasuk Sarah dan Raihan. Sarah langsung berjalan sendirian ke taman belakang sekolah, sedangkan Raihan pergi ke tempat parkir untuk mengambil mobilnya.
” hai Sar, sorry kamu nunggu lama ya? Aku tadi ngambil mobil dulu.”
“ nggak pa-pa, tapi ngomongnya jangan lama-lama, jam dua aku harus sudah ada di tempat les.”
“ aku Cuma mo nagih janji kamu yang kemarin aja kok.”
” ya udah, tinggal datang aja ke rumahku, ntar tak kenalin sama kakakku. Oya tapi kalau mau datang kerumah, sms dulu, masalahnya kakakku sibuk suka pergi, jarang di rumah.”
” Oke! Alamatnya?” tanya Raihan kemudian.
” Ini kartu namaku.”
” Thank’s Sar! Aku antar kamu ke tempat les ya? Udah jam dua kurang seperempat.” ucap Raihan menawarkan jasanya.
“ nggak usah, aku bawa motor sendiri kok. Kamu pulan aja gih, istirahat. nTar sore kamu ada latihan lagi kan? Oya emang pertandingannya kapan sih?”
” pertandingannya hari minggu besok, kamu dateng ya!” pinta Raihan.
” waduh sorry, minggu besok aku juga ada pertandingan karate, jadi aku nggak bisa.” sesal sarah.
” nggak pa-pa, kalau gitu kita sama-sama berdo’a untuk keselamatan dan keberhasilan kita berdua.”
Sarah hanya atersenyum,” Ray aku cabut dulu ya!”
”sekali lagi, thank’s Sar?” ucap Raihan sambil mengangkat tangannya.
Sarah berjalan menuju tempat parkir untuk mengambil motornya, sedangkan Raihan lansung pulang. Sarah memacu motornya dengan kecepatan tinggi agar tidak terlambat sampai di tempat lesnya.
Setelah itu, setiap malam raihan datang ke rumah Sarah. Bukan untuk ketemu Sarah, tapi ketemu kakak Sarah.
☺☺☺
Hari ini hari Sabtu. Istirahat pertama, Raihan dan Sarah ketemuan di taman belakang sekolah. Tempat di mana mereka sering bertemu. Mereka masih menyembunyikan hubungannya dari teman-temannya. kecuali Rama, sahabat dekat Raihan.
” Sar, do’akan aku ya! Semoga tidak ada kendala dalam pertandingan besok. Habis ini aku mau izin pulang, buat check up ke dokter dulu sebelum bertanding.”
” Sama-sama Ray, do’akan aku juga. Jaga kesehatanmu baik-baik selama bertanding. Kesehatan kamu jangan sampai down!” ucap Sarah pada Raihan.
” Ram, nitip Raihan ya. Ingetin jangan sampai lupa minim obat dan obatnya jangan sampai ketledoran lagi.!”
” beres tuan putri, hamba akan selalu menjaga sang pangeran,” ledek Rama.
” tapi kan kalau obatku nggak jatuh kemarin, sampai sekarang aku belum bisa berdamai dengan kamu donk!”
mereka tertawa bersama mendengar jawaban Raihan.
☺☺☺
” Kei, perasaanku kok nggak enak ya?” ucap Sarah sesbelum masuk ke arena pertandingan.
” udahlah jangan nervous, bukannya kamu udah biasa.”
” aku nggak nervous, tiba-tiba aku kepikiran seseorang yang ada jauh disana, yang juga lagi berjuang.”
” maksud kamu Rama? Ngapain juga dipikirin, apa jangan-jangan kamu suka sama dia?” tebak Keira, tapi tebakan itu meleset.
” bukan Rama, Kei! Tapi Raihan,” ucap sarah jujur.
’ jadi yang selama ini..........?” Keira kaget dengan pernyataaan terakhir Sarah. Sarah hanya mengangguk.” Udah ya Kei. Do’akan aku, aku dah dipanggil tuh.”
” ya udah. Cayo! SEMANGAT!!!”
Sarah berhasil mengalahkan lawannya dalam pertandingan itu dan dia berhak maju ke final yang akan dilaksanakan lusa.
” Sar, selamat ya. Kamu membuat mas bangga. Oya, tadi teman kamu ada yang telpon. Kamu disuruh telpon balik,” ucap Esa sambil mengulurkan tangan kepada Sarah.
” Makasih mas! Tadi siapa yang telpon?” tanya Sarah penasaran, perasaannya tambah tidak karuan.
” kalau nggak salah namanya Rama.”
mendengar ucapan mas Esa yang terakhir itu, pikiran Sarah melayang kemana-mana, dia takut terjadi sesuatu menimpa diri Raihan. Buru-buru dia menghubungi Rama.
” hallo Rama? Kamu tadi telpon aku, ada apa?”
” Raihan sar, raihan sekarang koma di rumah sakit,” mendengar kabar itu, hati Sarah bagai tersambar petir.
” apa? Raihan koma?” terus gimana keadaannya, kamu udah menghubungi keluarganya?”
” iya, Raihan koma Sar. Keadaannya kritis. Kamu harus secepatnya kemari. Aku udah menghubungi kakaknya, dia udah ada di bandara, kebetulan pas mau pulang ke sini.”
” Ya udah, aku segera ke sana sekarang,” ucap Sarah dan langsung menutup percakapannya. Sarah tergugu, air matanya membasahi pipi.
” Raihan kenapa Sar?” tanya Keira penasaran, melihat Sarah tiba-tiba menangis tergugu.
” Raihan koma di rumah sakit,” ucap sarah setelah perasaannya tenang.
” Mas aku pinjam motornya, aku harus pergi sekarang,” lanjut Sarah sambil bangkit dari duduknya.
” tapi Sar, lusa kamu kan harus mengikuti final. Kamu nggak bisa lari dari tanggung jawab begitu saja!” ucap Esa, mencegah Sarah pergi.
” aku nggak lari dari tanggung jawab mas. Tapi ini sangat penting mas. Aku janji, lusa sebelum pertandingan aku udah sampai sini lagi,” mohon Sarah dengan sisa air matanya.
” ya udah, nih kuncinya.”
Setelah mendapatkan pinjaman motor, Sarah langsung meluncur ke rumah sakit dengan kecepatan sangat tinggi. Tiba-tiba di tikungan dekat rumah sakit ada sebuah truk yang melaju sangat cepat dari arah yang berlawanan dengan Sarah.
” Aaaaaaaaa............! Brak!!!” sarah tidak bisa mengendalikan motornya begitu juga sopir truk itu. Akhirnya kecelakaan itu pun terjadi. Tubuh Sarah terpelanting beberapa meter dari motornya. Dia langsung di bawa kerumah sakit terdekat. Rumah sakit di mana Raihan dirawat. Pihak rumah sakit langsung menghubungi keluarga Sarah.
” kamu kok nggak sampai-sampai sih Sar? Apa kamu nggak jadi dateng. Setega itukah kamu sama Raihan?” Gumam Rama dalam hati, kemudian dia keluar dari kamar perawatan Raihan.
“ Saudara Rama?” ucap dokter yang telah berdiri didepan pintu.
“ ya dok, ada apa?” ucap Rama sambil menutup pintu.
“ Baru saja terjadi sebuah kecelakaan, nyawanya tidak bisa dieslamatkan lagi. Kalau keluarganya mengizinkan, jantungnya bisa didonorkan kepada Raihan. Raihan harus secepatnya mendapatkan donor. Kamu bisa membicarakannya kepada keluarganya sebagai wakil keluarga Raihan,” papar dokter itu.
“ Ya dok!” Jawab Rama singkat, kemudian mereka berjalan ke ruang di mana pasien yang kecelakaan itu dirawat.
“ Sarah?” Pekik Rama tertahan, ketika melihat sesosok pasien yang sedang meregang nyawa dengan balutan perban yang hampir memenuhi sekujur tubuhnya. Air mata Rama meleleh, dia sulit menentukan pilihan. Ihsan kakak Sarah muncul dari belakang Rama.
“ Ikhlaskan Sarah, biarkan dia mendonorkan jantungnya kepada Raihan. Dia pernah bilang sama kakak, seandainya dia pergi dulu dia pengin mendonorkan jantungnya untuk Raihan.”
“ Tapi kak……..!” ucap Rama terpotong.
” Kami semua telah mengihlaskannya. Cepat kamu hubungi keluarganya.”
Malam itu juga oprasi transplantasi jantung dilaksanakan atas persetujuan dari kedua belah pihak keluarga.
” Sar............!” Panggil Raihan pelan, ketika terbangun dari tidur panjangnya. Rama dan kakak Raihan bingung bagaimana menjelaskannya.
” Ray, sarah udah pergi,” jawab Rama jujur.
” apa maksudnya Ram?”
” iya, Sarah udah pergi. dia kecelakaan pada saat perjalanan kemari, nyawanya tidak bisa ditolong lagi. Dan.......” ucapan kakak Raihan terhenti.
” dan apa kak?” tanya Raihan penasaran.
” dan jantung yang sekarang berdetak di dada kamu adalah jantung Sarah,” Rama melanjutkan ucapan kakak Raihan.
”Jadi.......?” ucap Raihan terhenti. Air matanya membanjir di pipi.
” iya, Sarah mendonorkan jantungnya untuk kamu.”
” Sar terimakasih atas semua pengorbanan kamu selama ini untukku, walaupun kamu telah pergi tapi, detak jantungmu akan selalu mengiringi setiap helaian nafasku.” Ucap Raihan dalam hati.

The end























DIA BUKAN KAKAKKU’10

” Assalamu’alaikum! kok berduaan? Hayo.... ntar ketiganya setan lho!” Reza menghampiri Rara dan Rama yang sedang duduk berdua di bangku bawah pohon.
” Wa’alaikum salam!”jawab Rama dan Rara bersamaan.
” orang ketiganya antum, berarti antum setannya dong!” ucap Rama. Reza menatap wajah Rama dengan serius.
” nggak, dia adik ana. Gimana kabarnya akh! Dah lama nggak ketemu?”ucap Rama kemudian.
” Alhamdulillah bi khoir. o.... ukh Rara ini adik antum to! Kok nggak pernah crita kalau punya adik kuliah disini.”
” lha....orang Hp ana kemarin hilang, jadi nomornya hilang semua. Jarang juga ketemu antum. Yach.....yang dah jadi orang sibuk nih!”
” nggak sibuk, tapi menyibukkan diri. He..he...he...! ni kartu nama ana. Ana dah nggak tinggal di tempat yang dulu lagi.” ucap Reza, sambil menyerahkan kartu namanya kepada Rama. ” oya, afwan! Ana juga buru-buru, insyaAllah bisa disambung lain waktu. Assalamu’alaikum.”
Setelah kepergian Reza, Rara langsung merapikan ceceran filenya dan beranjak dari tempat duduknya.
” afwan akh! Ana harus pergi. Assalam’alaikum.” ucap Rara dengan nada kesal. Rama hanya termenung, merenungi kesalahannya.
Malam pun beranjak. Rara masih belum juga dapat membendung air matanya. Dia tidak menyangka kalau orang yang paling dia hormati itu, ternyata bisa berbuat seperti itu. Sepuluh panggilan dari Rama di Hp-nya, tidak juga diangkatnya. Terakhir sebuah pesan singkat masuk di Hp-nya.
Aslm, antum sangat berhak marah pada ana. Afwan jiddan, ana pikir tadi merupakan solusi terbaik, agar tidak terjadi fitnah. Antum boleh marah dengan ana, tapi jangan dengan amanah kita!
” Assalamu’alaikum!” tiba-tiba terdengar salam dari balik pintu kamar Rara. Dia hafal betul suara itu, ukh Nadia.
” wa’alaikum salam. Masuk nggak di kunci.” ucap Rara dari dalam, sambil berusaha menghapus air matanya.
” kamu kenapa Ra?” tanya Nadia, melihat mata Rara sembab.
” nggak papa kok mbak. Tadi gimana acara bedah bukunya?” ucap Rara mengalihkan pembicaraan.
” alhamdulillah lancar. Tadi gimana syuro’nya? Jadinya siapa yamg nemenin?” tanya Nadia kemudian. Rara hanya bisa terdiam. Dia teringat kejadian tadi sore. Air mata kembali meleleh membasahi pipinya.
” kenapa kamu menangis Ra? Ada apa sebenarnya? Cerita donk sama mbak!”ucap Nadia bingung.
”Nggak papa mbak!” ucap Rara sambil menghapus air matanya.
Tiba-tiba ringtone Hp Nadia mengalun dari dalam tasnya. Sebuah sms masuk dari Rama.
”Aslm, ukh af1, anti sudah sampai kost? Gimana Rara?”
”W3, alhmdllh sdh. Pa yg sebnrnya terjadi akh? Kok Rara nangis. Da sesuatukah disyuro’ tadi?oya af1 td g bs nemeni.”
Rama tidak membalas lagi sms Nadia. Nadia bertambah heran. Tapi dia nggak mau su’udzon dengan Rara dan Rama. Biarlah itu menjadi rahasia mereka.
☺☺☺
”Akh saya nanti izin jam 17.00 ya?” ucap Rara pada Reza, kakak angkatannya di Fakultas.
”Wah ukh, kerjaan masih banyak banget gini masa anti tega ninggalin. Biar ntar malem dijemput Rama,”jawab Reza.
”Iya Ra, sekali-kali manfatin kakak sendiri kenapa,” timpal Nisa.
”Akh, eh... Mas Rama lagi sibuk banget ngerjain proyeknya. Beliau nggak bisa jemput,” ucap Rara bohong. Matanya panas menahan tangis.
”Ntar biar aku yang bilang sama Rama,”ucapnya sambil mengambil Hp dari saku celananya. Dia mengirim sms pada Rama.
”aslm, akh jangan sibuk ngerjain proyek terus donk! insyaAllah rizki g kmn. he3x. adk antm ntar mlm dijemput dikampus ya. Ni soalnya lg byk bgt kerjaan.”
Rama tak kurang akal, dia membalas sms Reza,”W3, wah af1 akh. An skrg lg diluar kota. Sebelum maghrib, Rara suruh plg ya. G ahsan akhwat plg mlm2. keep Hamasah!”
☺☺☺
Waktu pun semakin cepat berlalu. Tak terasa sudah setahun Rara tinggak di Jogja. Amanah dakwah semakin menumpuk, tak ada kata lagi sekedar untuk melepas lelah. Reza sudah diWisuda sebulan lalu, tapi dia masih tetap tinggal di Jogja dengan mengembangkan bisnisnya. Sedangkan Rama sedang menempuh skripsi.
Rama yang sedang asyik membaca buku yang baru saja dibelinya, dikagetkan dengan getaran Hpnya yang diletakkan disamping kasurnya. Sederet nomor tak dikenal berjajar rapi di layar Hpnya.
”Assalamu’alaikum. Afwan ini siapa?“ ucap Rama.
”Wa’alaikumsalam. Afwan ini Reza. Sore ini ada agenda nggak akh.”ucap Reza tanpa bosa basi.
“Nggak ada agenda sepertinya. Ada yang bisa ana bantu?”
“Bisa ketemu ba’da Ashar di MASKAM? Ana ada perlu sama antum.”
“Ya, insyaAllah.”
“Sukron ya Akh. Assalamu’alaikum.”
“Afwan. Wa’alaikumsalam.”
Reza menunggu Rama yang tak kunjung datang sambil membaca al-Qur’an di dekat kolam.
“ Assalamu’alikum. Afwan akh, telat,” ucap Rama yang baru saja datang.
“Wa’alaikumsalam. Nggak papa.”
“Ada perlu apa akh? Kok kelihatanya serius banget.”ucap Rama sambil mengatur nafasnya.
“Kayaknya lebih enak ngobrol di segi delapan. Kesana ja gimana akh.”ucap Reza sambil meninjuk ke arah segi delapan.
“Gini akh, maksud ana ngundang antum kesini untuk ……….,” Reza masih ragu untuk melanjutkan ucapannya.
“Untuk apa akh?” Tanya Rama tambah penasaran.
“Em…..insyaAllah antum kan sudah tahu luar dalam dari diri ana. insyaAllah ana punya niatan untuk berproses dengan adik antum, Rara. Antum sebagai walinya insyaAllah lebih baik untuk menjadi perantara.”ucap Reza kemudian.
Bagaikan petir di siang bolong. Rama sangat kaget dengan apa yang baru saja dia dengar. Dia tidak menyangka, kalau sahabatnya itu menaruh hati pada Rara. Dia hanya termenung, seakan mulutnya terkunci.
”Gimana Akh? Antum keberatan?”ucap Reza lagi.
“Eng…Nggak. Tapi…, bukannya terlalu dini akh, Rara masih semester tiga. Umurnya baru 19. Dia juga baru tinggi-tigginya amanah baik di kampus maupun di sekolah.”ucap Rama memberikan pertimbangan.
“Justru itu akh. Ana sudah mempertimbangkan matang-matang hal ini dengan guru ngaji ana. InsyaAllah semuanya akan baik-baik saja. Dengan menikah, insyaAllah kuliah dan amanah dakwah Rara tidak akan terganggu.”
”Ya insyaAllah ana siap jadi perantara. InsyaAllah ana kasih kabar perkembangannya dua minggu lagi.”ucap Rama berat.
”Syukron ya Akh! Gimana dengan antum sendiri? Dah Siap Belum nih? Apa malah dah proses?” ledek Reza pada Rama. Rama tidak menjawab dengan sepatah kata pun, dia hanya tersenyum kecut.
☺☺☺
“aaaaaaaaaaaaa............!!!” teriak Rama di bibir pantai. Dia ingin melepas semua beban yang tengah memenuhi dadanya. Dia tidak menyangka kalau tindakan dia satu tahun lalu berimbas sangat besar terhadap kehidupannya. Dia akan segera kehilangan sosok yang dia dambakan menjadi pendamping hidupnya kelak, merentas jalan dakwah bersama. Karena seseorang itu esok akan sah menjadi milik sahabatnya.
“Ya Allah........ampunilah segala dosa hambamu yang hina ini!”pekiknya dalam hati.
Tidak berapa lama, Rama dikagetkan dengan getaran yang bersumber dari saku jaketnya.
”Rara?” batin Rama, tambah kaget. Tanpa pikir panjang dia langsung mengangkatnya.
”Assalamu’alaikum,”Sapa Rama.
”Wa’alaikumsalam. Afwan akh, telpon malem-malem.”
”Iya, ada apa ukh?”
”Akh Reza kecelakaan, Akh!”
”Innalillahi waina ilaihi roji’un. Terus keadaanya gimana?”
”Ana belum tahu akh. Ana bingung.”
Rama paham dengan kebingungan Rara. Disaat semua telah disiapkan untuk pernikahan besok pagi, musibah datang. Memang manusia hanya bisa merencanakan, tapi Allah-lah yang menentukan. Rara yang mungkin memang lebih dewasa dari teman-teman seumurannya, pasti tetap goyah psikologinya dengan kejadian ini.
”dimana kecelakaannya, di Jogja atau Magelang?”
”Di Jogja Akh. Sekarang di Sardjito katanya. Ini ana lagi siap-siap berangkat kesana. Antum bisa langsung ke sana kan? Afwan.”
”InsyaAllah ana langsung ke sana sekarang.”
”Syukron ya Akh. Assalamu’alaikum.”
”wa’alaikumsalam.”
”Ya Allah, kenapa aku menjadi orang yang paling jahat. Kenapa aku bilang sama Reza ada acara sehingga tidak bisa nganterin dia. Kenapa aku menjadi orang paling egois.” maki Rama pada dirinya sendiri. Dia sangat menyesal. Harusnya malam itu Reza menginap di rumahnya untuk mempersiapkan hari bahagianya itu. Dan membantu Reza untuk mempersiapkan semuanya. Bukan membiarkan Reza sendiri.
Rama melajukan motornya dengan kecepatan tinggi menyusuri jalanan Jogja yang penuh dengan kendaraan. Sesampainya di Rumah Sakit, dia langsung menuju ruang informasi. Berdasarkan info yang didapat, Reza masih di Ruang UGD.
Dari kejauhan terlihat seorang akhwat memakai jilbab hitam sedang duduk sendirian di ruang tunggu. Rama tidak asing lagi dengan akhwat itu. Dia Ais, adik Reza yang sedang menempuh study di Jogja juga, yang sebentar lagi juga akan menikah dengan teman satu oganisasinya.
”Assalamu’alaikum.” sapa Rama pada Ais.
”Wa’alaikumsalam. Akh Rama?”
”Gimana keadaan Reza, ukh?”
”Belum tahu Akh. Dokter masih di dalam. Kasihan mas Reza sama Rara.”
”Allah pasti punya rencana yang lebih indah untuk hamba-Nya.”
Tiba-tiba keluar seorang dokter dan seorang perawat dari dalam ruang UGD.
”Keluarga Pasien kecelakaan?” ucap perawat itu di depan pintu.
”ya, kami sus. Gimana keadaan Reza.” Ucap Rama.
“Pasien dalam kondisi kritis. Harus segera dilakukan tindakan operasi, kaki kanannya harus segera diamputasi, karena tidak bisa diselamatkan lagi.”
“Amputasi dok?” ucap Rama tak percaya. Dia tidak bisa membayangkan, sahabatnya itu akan kehilangan salah satu kakinya.
“Lakukan apa saja untuk kakak saya dok. Saya ikhlas. Yang penting kakak saya selamat.”
”Kalau begitu segera selesaikan administrasinya, kami akan segera melakukan operasi.”
Rama langsung mengurus administrasinya dan Reza langsung dioperasi.
”Tadi biayanya gimana Akh?” tanya Ais pada Rama.
“Nggak usah dipikirin dulu. Yang penting Reza selamat.”
”Tapi Akh?”
”Kita saudara ukh. Kebetulan ana sedang ada rizki lebih.”
”syukron ya akh.”
Menunggu tanpa kepastian adalah hal yang sangat menjemukan. Rara juga tidak kunjung datang. Ais menunggu dengan membaca al-Qur’an, dengan sesekali mengusap air matanya yang jatuh.
”Ukh, minum dulu. Biar lebih tenang.”ucap Rama Sambil menyodorkan segelas jahe hangat, yang dia beli di depan rumah sakit.
”Syukron akh. Kok lama banget ya akh.”
“Sabar. InsyaAllah Reza akan baik-baik saja.”
Dari jauh terlihat Rara dengan kedua orang tuanya datang. Tanpa pikir panjang, Ais langsung memeluk Rara sambil berurai air mata.
“Yang sabar ya ukh,” Bisik Ais pada Rara.
“Gimana keadaannya Ram?” tanya ayah Rara pada Rama.
“Masih dioperasi, Pak. Ya kita hanya bisa menunggu.”jawab Rama datar.
Menit demi menit telah berlalu. Keadaan Reza masih juga kritis.
☺☺☺
Tiga hari sudah Rama menunggu Reza di rumah sakit tanpa adanya kepastian. Reza belum juga sadar dari komanya.
”Akh....!” suara lemah itu membangunkan Rama yang tertidur disamping Reza.
”Alhamdulillah, sudah sadar antum akh,”ucap Rama.
”Kaki ana akh?” ucap Reza sambil sedikit merintih kesakitan.
”Sabar akh! Pasti Allah sedang merencanakan yang tebaik untuk antum.” ucam Rama dengan matanya yang berkaca menahan air matanya.
”Kenapa dengan kaki ana, akh?”
”Kaki antum.............. Kaki antum telah diambil Allah, Akh,” ucap Rama terbata.
”Assalamu’alaikum.” tiba-tiba Rara dan Ais datang.
”Alhamdulillah, dah sadar kak?” ucap Ais sambil menghampiri tempat tidur Reza. Rara hanya mematung di depan pintu.
”Kaki kakak Ais.”ucap Reza pada Ais. Air matanza tiba-tiba meleleh.
“Sabar ya kak!” Ucap Ais pada Reza sambil memeluknya.
“Ra….!” Panggil Reza.
“Ya akh!” ucapnya sambi mendekat dan menghapus air matanya.
“Ram, ana tau kau menyimpan rasa terhadap Rara. Aku sudah tak bisa menjaganya lagi, kau yang lebih pantas untuk menjaganya.”ucap Reza pada Rama. Semua yang ada di ruanan itu terperangah mendengar ucapan Reza.
”InsyaAllah ana siap menerima apapun kondisi antum akh.” ucap Rara terbata.
”Tapi ana sudah cacat ukh! Apa yang anti harapkan dari seorang laki-laki yang cacat seperti ana?”ucap Reza dengan nada meninggi.
”Sabar kak! Kita hormati pilihan Rara.” ucap Ais pada kakaknya.
”Iya akh. Jujur ana memang dulu menaruh hati pada Rara. Tapi sekarang ini semua itu telah hilang. Dan saya sedang berproses.”Ucap Rama, membohongi hatinya sendiri. Ya memang dia sedang berproses. Berproses untuk menghilangkan Rara dari hatinya dan mencari penggantinya untuk menjadi pendamping hidupnya.
“Ini jalan hidup yang ana pilih. Ana siap dengan apapun konsekuensinya. Antum hanya cacat fisik, bukan cacat hati. Ijinkan ana menjadi istri terbaik untuk antum.” Ucap Rara lembut tapi tegas.
“Syukron ya ukh. Kakak nggak salah pilih anti.” Ucap Ais memeluk Rara sambil menangis.

The End